PT Vale Indonesia Tbk. resmi mendapatkan fasilitas pinjaman sindikasi senilai US$750 juta atau sekitar Rp12,96 triliun dari 14 institusi perbankan. Pendanaan ini disiapkan untuk mempercepat penyelesaian tiga proyek nikel strategis perusahaan di Sulawesi.
Fasilitas tersebut berbentuk sustainability linked loan (SLL) dan mencakup pinjaman utama US$500 juta, serta opsi penjatahan berlebih atau greenshoe hingga US$250 juta. Dana ini akan dibagi untuk tiga lokasi pengembangan, dengan porsi terbesar mengarah ke proyek Pomalaa.
Pembagian dana untuk tiga proyek
Manajemen Vale Indonesia menetapkan alokasi 50 persen dari pendanaan untuk Pomalaa. Lalu, 30 persen diarahkan ke proyek Morowali, sementara 20 persen sisanya digunakan untuk pengembangan wilayah Sorowako Limonite.
Pembagian itu menunjukkan bahwa perusahaan menempatkan proyek Pomalaa sebagai prioritas utama. Proyek ini memiliki nilai investasi total US$4,5 miliar dan dikerjakan bersama Ford serta Huayou.
Kaitan pendanaan dengan target keberlanjutan
Presiden Direktur Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, menyebut fasilitas ini sebagai langkah penting untuk menyelaraskan pembiayaan dengan agenda dekarbonisasi perusahaan. Ia menegaskan bahwa Vale ingin tetap menghasilkan nikel berkualitas tinggi dengan jejak karbon yang lebih rendah.
Bernardus juga menekankan bahwa pendanaan ini mendukung pengembangan hilirisasi nasional dan transisi energi global. Dalam pernyataannya di Jakarta Selatan saat penandatanganan kerja sama, ia mengatakan fasilitas tersebut menjadi bagian dari perjalanan perusahaan untuk menghubungkan strategi keuangan dengan target lingkungan jangka panjang.
Struktur SLL yang digunakan Vale memakai indikator kinerja utama yang ketat. Keberhasilan pembiayaan ini diukur dari penurunan intensitas emisi karbon dan meningkatnya pemanfaatan energi terbarukan dalam operasional tambang.
Progres tiga proyek nikel
Di Pomalaa, pembangunan pabrik pengolahan nikel telah mencapai progres konstruksi 65 persen hingga April 2026. Capaian ini menempatkan proyek tersebut sebagai salah satu titik paling maju dalam portofolio ekspansi Vale saat ini.
Pada proyek Morowali, smelter hasil kemitraan dengan GEM dan EcoPro telah mencapai progres 27 persen. Fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas 66.000 ton per tahun dan menjadi bagian dari strategi penguatan rantai pasok nikel perusahaan.
Sementara itu, proyek Sorowako Limonite mencatat progres pembangunan tambang sebesar 42 persen. Area ini disiapkan untuk mendukung produksi 60.000 ton mixed hydroxide precipitate atau MHP per tahun.
Kebutuhan pendanaan lanjutan masih terbuka
Chief Financial Officer INCO, Rizky Andhika Putra, menyampaikan bahwa pendanaan baru ini belum menutup seluruh kebutuhan ekspansi Vale. Ia menilai fasilitas tersebut cukup untuk kebutuhan tahun ini, namun kebutuhan tambahan masih mungkin muncul seiring ekspansi berlanjut.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa perusahaan masih berada dalam fase pengembangan besar-besaran. Dengan sejumlah proyek berjalan sekaligus, kebutuhan modal Vale diperkirakan tetap menjadi perhatian dalam periode berikutnya.
Di tengah dorongan hilirisasi dan permintaan nikel untuk transisi energi, pendanaan sindikasi ini memberi ruang lebih besar bagi Vale Indonesia untuk melanjutkan pembangunan tiga proyek utamanya. Fokus perusahaan kini tertuju pada penyelesaian Pomalaa, Morowali, dan Sorowako Limonite agar kapasitas produksi dan target keberlanjutan bisa berjalan seiring.
