Kilang Pernis Genjot Bahan Bakar Jet, Konflik Timur Tengah Ancam Pasokan Avtur Eropa

Kilang minyak Pernis milik Shell Plc di Rotterdam menaikkan produksi bahan bakar jet ke level maksimal untuk merespons ancaman krisis pasokan avtur. Langkah ini muncul setelah konflik di Timur Tengah mengganggu jalur distribusi energi dan menekan ketersediaan bahan bakar pesawat di Eropa.

Tekanan terhadap pasokan membuat kilang-kilang di kawasan itu bergerak cepat mengamankan stok. Ketergantungan Eropa pada impor avtur menjadi sorotan, terutama setelah aliran pasokan melalui Selat Hormuz terhenti dan memicu kekhawatiran di rantai energi regional.

Respons kilang di Eropa

Frans Everts, kepala divisi bisnis Shell di Belanda, mengatakan kondisi saat ini mendorong hampir semua kilang di Eropa bekerja dalam “mode jet maksimum”. Pernyataan itu menggambarkan upaya industri pemurnian minyak untuk memprioritaskan produksi bahan bakar pesawat di tengah situasi pasokan yang ketat.

Pernis sendiri memiliki kapasitas pengolahan 400.000 barel per hari. Kilang ini juga memasok kebutuhan energi ke wilayah Jerman dan Inggris, sehingga perubahan produksi di fasilitas tersebut berdampak lebih luas dari sekadar pasar Belanda.

Dampak ke industri penerbangan

Gangguan pasokan minyak sejak akhir Februari telah memukul ketersediaan jutaan barel energi dari jalur yang semestinya berjalan lancar. Dalam kondisi itu, maskapai besar seperti KLM dan Lufthansa AG mulai mempertimbangkan pengurangan frekuensi penerbangan musim panas untuk menghemat cadangan bahan bakar.

Langkah maskapai menunjukkan bahwa persoalan di sektor energi langsung merembet ke dunia penerbangan. Ketersediaan avtur kini menjadi salah satu faktor penting yang menentukan jadwal operasional maskapai di Eropa.

Pencarian sumber pasokan baru

Shell juga mulai meneliti sumber energi dan pasar alternatif untuk menggantikan minyak mentah asal Timur Tengah. Perusahaan menyesuaikan strategi pasokan dengan kondisi geopolitik yang berubah cepat agar operasi kilang tetap berjalan.

Everts menegaskan bahwa fleksibilitas global menjadi kunci bagi Shell dalam menghadapi hambatan distribusi saat ini. Menurutnya, jaringan internasional perusahaan memberi peluang untuk menemukan sumber pengganti ketika pasokan utama terganggu.

Dalam situasi seperti ini, kemampuan kilang untuk berpindah sumber bahan baku menjadi faktor penting. Shell berupaya menjaga jalur produksi tetap stabil sambil menyesuaikan diri dengan keterbatasan di pasar minyak global.

Modernisasi fasilitas energi

Di luar pengetatan produksi avtur, Shell juga menjalankan modernisasi infrastruktur di kawasan kimia Moerdijk yang terhubung dengan Pernis. Proyek itu mencakup konversi dua turbin gas alam menjadi tenaga listrik sebagai bagian dari efisiensi energi jangka panjang.

Upaya modernisasi tersebut menunjukkan bahwa Shell tidak hanya fokus pada respons jangka pendek terhadap krisis pasokan. Perusahaan juga menyiapkan infrastruktur yang lebih efisien untuk menghadapi tantangan energi yang terus berubah, terutama saat ketegangan geopolitik masih memengaruhi arah pasokan minyak dan bahan bakar jet di Eropa.

Berita Terkait

Back to top button