IHSG tertekan hebat pada perdagangan sesi I dan meluncur ke area 7.400-an, seiring rupiah ikut melemah tajam hingga menyentuh level Rp17.300 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan sentimen pasar domestik sedang berada dalam tekanan kuat, terutama setelah muncul kekhawatiran baru dari faktor geopolitik global.
Pergerakan dua indikator utama pasar tersebut membuat pelaku pasar mencermati perkembangan situasi eksternal dengan lebih hati-hati. Arah perdagangan saham dan mata uang dalam negeri juga menjadi lebih sensitif terhadap kabar yang datang dari Timur Tengah.
Tekanan datang dari Selat Hormuz
Salah satu pemicu utama tekanan pasar berasal dari meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Jalur ini memegang peranan penting dalam stabilitas pasokan energi dan perdagangan internasional, sehingga gejolak di kawasan tersebut cepat memengaruhi sentimen investor.
Kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap defensif. Dalam kondisi seperti ini, aset berisiko seperti saham dan mata uang emerging market biasanya lebih mudah tertekan ketika ketidakpastian global meningkat.
Diplomasi AS dan Iran belum meredakan pasar
Selain faktor keamanan, kegagalan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran juga menambah beban pasar. Pertemuan yang difasilitasi Pakistan tidak menghasilkan kesepakatan karena pihak Iran tidak hadir dalam perundingan tersebut.
Pengamat ekonomi mata uang Ibrahim Assuaibi menilai kegagalan perundingan itu menjadi salah satu faktor eksternal utama yang menekan rupiah. Ia menyebut situasi memanas setelah AS dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata melalui tindakan penangkapan yang memicu ketegangan baru.
Pernyataan tersebut memperkuat pandangan bahwa pasar belum mendapat sinyal mereda dari konflik dan negosiasi yang memburuk. Selama ketegangan itu berlanjut, tekanan terhadap mata uang Garuda berpotensi tetap besar dan memengaruhi arah perdagangan di bursa.
Pasar saham ikut bergerak di zona merah
Di pasar saham, penurunan IHSG ke level 7.400-an menggambarkan respons cepat investor terhadap berita eksternal yang tidak kondusif. Hingga penutupan perdagangan sesi pertama, pasar dalam negeri masih bertahan di zona merah.
Kondisi itu menandakan investor belum menemukan alasan kuat untuk kembali masuk agresif ke pasar. Kekhawatiran terhadap perkembangan geopolitik membuat transaksi cenderung berhati-hati, sementara minat pada aset berisiko belum sepenuhnya pulih.
Rupiah yang menyentuh Rp17.300 per dolar AS juga menambah tekanan psikologis bagi pelaku pasar. Saat mata uang melemah tajam, persepsi risiko biasanya ikut naik dan dapat memengaruhi keputusan investasi di saham maupun instrumen lainnya.
Sorotan pasar masih tertuju pada perkembangan selanjutnya
Pelaku pasar kini terus memantau dampak lanjutan dari situasi di Selat Hormuz terhadap indeks dan nilai tukar rupiah. Arah pergerakan ke depan masih sangat bergantung pada apakah ketegangan geopolitik mereda atau justru semakin berlarut.
Selama belum ada kepastian yang menenangkan pasar, IHSG dan rupiah berpotensi tetap bergerak dalam tekanan. Investor pun akan terus menimbang setiap perkembangan diplomasi dan keamanan global sebagai faktor penentu sentimen perdagangan di dalam negeri.
