Harga Batu Bara Newcastle Tembus Us$ 130, Selat Hormuz Bikin Pasokan Energi Dunia Tersendat

Harga batu bara acuan ICE Newcastle kembali menguat dan menutup perdagangan di level US$ 130,2 per ton pada Jumat (24/4/2026). Kenaikan 0,85 persen ini terjadi setelah harga sempat terkoreksi hampir 3 persen pada perdagangan Kamis (23/4/2026).

Pergerakan tersebut menunjukkan adanya pemulihan cepat di pasar batu bara, meski secara mingguan komoditas ini masih melemah 1,59 persen secara point-to-point. Di tengah situasi itu, pasar masih mencermati arah permintaan energi global yang tetap menjadi pendorong utama pergerakan harga.

Gangguan pasokan energi ikut dorong harga

Penguatan harga batu bara terjadi di tengah hambatan besar pada arus pelayaran komersial akibat penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini memicu kemacetan total yang mengganggu distribusi gas alam cair atau LNG.

Sekitar 20 persen perdagangan LNG dunia dilalui melalui jalur tersebut setiap tahun. Ketika jalur itu terganggu, pasar energi langsung merasakan tekanan karena suplai menjadi lebih ketat dari biasanya.

Kekhawatiran terhadap pasokan LNG global kemudian mendorong sebagian pembangkit listrik kembali melirik batu bara sebagai alternatif sumber energi. Situasi itu membantu menopang harga batu bara tetap bertahan di atas US$ 120 per ton, jauh lebih tinggi dibandingkan posisi sebelum perang meletus.

Sinyal teknikal masih menunjukkan tren bullish

Dari sisi teknikal mingguan, batu bara masih berada di zona bullish. Relative Strength Index atau RSI 14 hari tercatat di level 71, yang menandakan kondisi jenuh beli atau overbought karena berada di atas ambang 70.

Di sisi lain, indikator Stochastic RSI 14 hari berada pada level 60. Posisi ini menunjukkan area beli atau long masih cukup kuat, sekaligus memberi ruang bagi harga untuk tetap bergerak positif dalam waktu dekat.

Pasar diperkirakan akan menguji level pivot di US$ 133 per ton pada pekan depan. Level tersebut akan menjadi penentu arah pergerakan harga berikutnya, terutama jika pasar merespons ketatnya pasokan energi global secara lebih kuat.

Level penting yang dicermati pelaku pasar

Jika harga berhasil menembus pivot tersebut, resisten terdekat diproyeksikan berada di US$ 135 per ton, yang juga sejalan dengan Moving Average atau MA 5. Kenaikan ke area itu akan menegaskan bahwa momentum penguatan masih terjaga.

Sebaliknya, jika koreksi kembali muncul, support terdekat berada di US$ 129 per ton. Tekanan jual yang lebih besar berpotensi menyeret harga ke rentang US$ 127 hingga US$ 120 per ton.

Pasar batu bara saat ini bergerak di antara dua kekuatan besar, yaitu gangguan pasokan energi yang menopang harga dan sinyal teknikal yang mulai menunjukkan area jenuh beli. Selama ketegangan pada distribusi LNG belum mereda, batu bara masih berpeluang mempertahankan posisinya di atas US$ 120 per ton.

Terkait