93 Proyek Hidrogen Tarik Rp 32 Triliun, Diesel di Pulau Terpencil Mulai Ditekan

Indonesia tengah menggarap 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang telah tersebar di berbagai wilayah. Total investasi yang mengikuti proyek-proyek tersebut mencapai Rp 32 triliun dan akan dikawal pemerintah.

Angka itu menunjukkan hidrogen mulai diposisikan bukan sekadar teknologi masa depan, melainkan salah satu jalur untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Fokus pemanfaatannya mencakup sektor kelistrikan, transportasi, serta industri yang perlu menurunkan emisi.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan perkembangan tersebut dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit 2026 di Jakarta. Menurut dia, proyek yang tersebar di Indonesia itu sekaligus menopang agenda ketahanan energi nasional.

“Kami saat ini punya 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang proyek-proyeknya sudah tersebar di seluruh Indonesia. Proyek-proyek ini melahirkan investasi sebesar Rp 32 triliun yang akan kita kawal,” ujar Eniya.

Dua Arah Pemanfaatan Hidrogen

Pemerintah menyiapkan proyek percontohan untuk memperlihatkan penggunaan hidrogen dalam kebutuhan yang berbeda. Salah satunya menyasar pembangkit diesel di wilayah terpencil, sedangkan lainnya menguji bahan bakar ganda untuk armada bus.

SektorLokasi atau ProgramPemanfaatan Hidrogen
KelistrikanPLTD Sumba dan Pulau RengitMendukung dedieselisasi dan penyimpanan energi
TransportasiBus H2 DDFDipadukan dengan biosolar dalam sistem dual fuel

Pada sektor kelistrikan, program Dedieselisasi PLTD disiapkan untuk pembangkit listrik tenaga diesel di Sumba, Nusa Tenggara Timur, serta Pulau Rengit, Kepulauan Bangka Belitung. Pembangkit berbasis diesel itu diarahkan untuk dikonversi ke pembangkit energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

Di Pulau Rengit, pembangkit listrik tenaga surya dipadukan dengan hidrogen yang berfungsi sebagai media penyimpanan energi. Kombinasi ini ditujukan untuk mengurangi biaya pembangkitan di daerah yang selama ini masih mengandalkan diesel.

Eniya menyebut kerja sama dengan PLN di Pulau Rengit menjadi bagian dari program dedieselisasi. Menurutnya, biaya diesel yang disebut mencapai Rp 20.000 per KWh atau sekitar satu dolar dapat ditekan menjadi 25 sen melalui skema tersebut.

Bus Dual Fuel dan Pengurangan Emisi

Di sektor transportasi, Kementerian ESDM bersama PT PLN (Persero) dan Perum Damri mengembangkan proyek pilot Bus H2 DDF. Sistem ini mengombinasikan biosolar dan gas hidrogen dalam satu mesin untuk mengurangi pemakaian bahan bakar fosil tanpa harus mengganti seluruh armada yang sudah beroperasi.

Pengujian, inspeksi, dan sertifikasi independen dalam proyek itu didukung PT Sucofindo (Persero). Sementara itu, PT Tritunggal Prakarsa Global bertindak sebagai pelaksana proyek percontohan bus.

Bus tersebut memakai mesin diesel Hino enam silinder berkapasitas 7.684 cc dengan sistem hidrogen yang dipasang pada kendaraan. Sistem penyimpanannya terdiri dari 16 tabung hidrogen berkapasitas masing-masing 50 liter, bertekanan nominal 200 bar dan tekanan kerja 150 bar.

Jenis EmisiPenurunan Menurut Pengujian Sucofindo
Opasitas57,66 persen
Karbon monoksida45,45 persen
Karbon dioksida39,37 persen
Nitrogen oksida21,16 persen

Berdasarkan pengujian PT Sucofindo (Persero), sistem H2 DDF menurunkan emisi opasitas hingga 57,66 persen. Pengurangan juga tercatat pada karbon monoksida 45,45 persen, karbon dioksida 39,37 persen, dan nitrogen oksida 21,16 persen.

Eniya mengatakan sistem dual fuel memungkinkan dua bahan bakar dipakai dalam satu kendaraan, yakni biosolar dan gas hidrogen. Pengembangan berikutnya tidak hanya diarahkan untuk bus, tetapi juga mobil penumpang, drone, dan alat angkat seperti forklift.

Source: money.kompas.com
Terkait