Menjadi delegasi Indonesia di olimpiade akademik internasional bukan hanya soal cepat memahami materi. Siswa juga perlu membangun kebiasaan latihan yang konsisten, berani menghadapi soal sulit, dan terus memperbaiki kemampuan.
Jalur menuju kompetisi dunia pun tidak singkat karena peserta harus melewati seleksi berjenjang. Prestasi pada Olimpiade Sains Nasional menjadi pintu awal sebelum siswa berpeluang masuk Pelatihan Nasional dan bersaing untuk posisi delegasi.
Seleksi Berjenjang Sebelum Masuk Tim Indonesia
Olimpiade Sains Nasional atau OSN berlangsung dari tingkat sekolah, kabupaten atau kota, provinsi, hingga nasional. Peraih medali pada tingkat nasional kemudian dapat mengikuti Pelatihan Nasional atau Pelatnas.
| Tahap | Posisi dalam Seleksi |
|---|---|
| Tingkat sekolah | Tahap awal seleksi OSN |
| Kabupaten atau kota | Seleksi setelah tingkat sekolah |
| Provinsi | Tahap menuju kompetisi nasional |
| Nasional | Penentuan peraih medali OSN |
| Pelatnas | Pembinaan bagi peraih medali nasional |
| Olimpiade internasional | Diikuti empat siswa dengan peringkat teratas sesuai bidang |
Empat siswa dengan peringkat tertinggi setelah pembinaan berpeluang menjadi wakil Indonesia sesuai bidang olimpiadenya. Karena itu, persiapan tidak dapat hanya dilakukan menjelang lomba atau saat tahapan seleksi sudah dimulai.
Belajar Rutin, Bukan Sekadar Mengejar Jam Panjang
Siswa SMA Kolese Kanisius Jakarta, Nathan Allan, menilai konsistensi sebagai hal terpenting bagi pelajar yang ingin menembus kompetisi internasional. Ia telah dua kali menjadi delegasi Indonesia pada International Olympiad in Informatics atau IOI pada 2025 dan 2026.
Kepada Kompas.com, Nathan mengatakan persiapannya banyak dilakukan secara mandiri, sejalan dengan kebiasaan belajar yang ditanamkan sekolah. Ia memilih melihat latihan sebagai hobi, bukan sebagai kewajiban yang membebani.
“Cuman rutin aja (belajar). Dan menurut saya memang paling penting itu konsistensinya ya (dalam belajar),” kata Nathan. Dalam waktu luang, ia biasa mengerjakan satu hingga dua soal dengan durasi latihan sekitar setengah jam sampai satu jam setiap hari.
Pola tersebut menunjukkan bahwa latihan teratur dapat menjadi cara menjaga keterampilan tanpa harus selalu menghabiskan waktu sangat panjang dalam satu sesi. Untuk persiapan IOI, Nathan juga memperbanyak latihan dari berbagai bank soal.
Ia menyebut Codeforces sebagai salah satu sumber soal yang digunakannya. Selain itu, Nathan mendapat soal-soal baru dari pembina di Pelatnas dan Puspresnas.
Soal Sulit sebagai Ruang untuk Naik Level
Muhammad Zhafif, siswa SMAS Kharisma Bangsa, menekankan pentingnya berusaha menyelesaikan soal-soal yang sulit. Menurutnya, materi perlu dipelajari secara mendalam agar masa pembinaan dapat dimanfaatkan dengan lebih optimal.
Zhafif mengatakan dirinya telah mempelajari banyak materi sebelum mengikuti Pelatnas. Dengan bekal itu, ia dapat menikmati proses pelatihan karena materi yang diberikan rata-rata sudah pernah dipelajari sebelumnya.
Ia juga membiasakan diri mempelajari soal olimpiade satu tingkat di atas kompetisi yang sedang dituju. Strategi tersebut diyakininya dapat membuat soal pada tingkat target terasa lebih mudah untuk dihadapi.
Menurut Zhafif, selama masih memiliki waktu dan kapasitas, siswa perlu melakukan akselerasi dari diri sendiri. Ia bahkan berupaya menamatkan materi tingkat internasional ketika target kompetisinya masih berada pada tingkat provinsi atau nasional.
Intensitas belajarnya pernah mencapai 12 jam dalam sehari, tetapi pendekatan itu menjadi bagian dari persiapan pribadinya. Yang lebih penting, latihan dilakukan dengan tujuan jelas untuk menguasai materi dan mengurai kesulitan soal.
Membayangkan Menang dan Gagal untuk Terus Berkembang
Saat berlatih, Zhafif membangun dua skenario dalam pikirannya. Skenario pertama menempatkan dirinya sedang mengerjakan soal dalam situasi lomba, sedangkan skenario kedua membayangkan kegagalan yang perlu diperbaiki.
Melalui cara itu, ia terdorong mengevaluasi kekurangan dan belajar lebih banyak. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kesiapan olimpiade tidak hanya dibangun dari penguasaan materi, tetapi juga dari kebiasaan menilai ulang proses belajar.
Bagi siswa yang ingin melangkah hingga olimpiade internasional, jalurnya dimulai dari seleksi yang terstruktur dan latihan yang berkelanjutan. Konsistensi, keberanian menghadapi soal sulit, serta kesiapan belajar sebelum masa pembinaan menjadi bekal penting dalam persaingan tersebut.







