Seiko Consultancy Pte. Ltd. dari Singapura tengah menyiapkan langkah masuk lebih dalam ke pasar Indonesia melalui rencana akuisisi 41,18 persen saham PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ). Rencana ini dilakukan lewat negosiasi dengan PT Asia Intrainvesta selaku pemegang saham pengendali, dan informasi tersebut telah disampaikan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi ekspansi Seiko để memperkuat pengembangan usaha dan memperluas jangkauan bisnisnya. Jika transaksi ini selesai, perubahan pengendali pada NAYZ akan memicu kewajiban penawaran tender wajib atau mandatory tender offer sesuai aturan pasar modal.
Negosiasi belum selesai
Saat ini, proses pembahasan masih berjalan untuk menentukan nilai transaksi dan jadwal penyelesaian akuisisi secara resmi. Karena itu, struktur kepemilikan NAYZ belum berubah dan seluruh pihak masih menunggu hasil akhir dari negosiasi tersebut.
Keterbukaan informasi menjadi sinyal bahwa proses korporasi ini sudah masuk tahap yang lebih serius. Namun, selama belum ada kesepakatan final, rincian harga maupun skema penyelesaian belum dapat dipastikan.
Dampak regulasi bila saham berpindah tangan
Dalam pasar modal, perubahan pengendali tidak hanya soal perpindahan saham. Kewajiban tender offer biasanya muncul untuk memberi kesempatan kepada pemegang saham publik lain agar dapat menjual sahamnya dalam kondisi dan perlakuan yang diatur regulasi.
Bagi NAYZ, langkah ini berarti perusahaan bisa memasuki fase baru dalam struktur kepemilikan. Seiko kemudian harus menyesuaikan proses korporasi dengan ketentuan yang berlaku setelah akuisisi dinyatakan sah.
Profil manajemen Seiko ikut jadi sorotan
Seiko Consultancy dipimpin oleh Mark Leong Kei Wei yang memiliki rekam jejak panjang di sektor keuangan Singapura. Di jajaran manajemen, perusahaan ini juga diperkuat oleh Sawin Laosethakul, profesional keuangan asal Thailand yang berpengalaman di perusahaan terbuka di Stock Exchange of Thailand.
Kehadiran dua nama tersebut menunjukkan bahwa Seiko membangun pendekatan bisnis dengan dukungan manajemen yang punya latar belakang pasar modal. Faktor ini ikut mempertegas bahwa rencana akuisisi NAYZ tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi jangka lebih luas.
Pernah membidik emiten lain
Sebelum mengarah ke NAYZ, Seiko sempat merencanakan pengambilalihan terhadap SPRE pada awal 2026. Rencana itu tidak berlanjut karena pemegang saham SPRE berkomitmen mempertahankan kendali mereka untuk jangka waktu tertentu.
Riwayat tersebut menunjukkan bahwa Seiko memang aktif mencari peluang ekspansi melalui aksi korporasi. Perpindahan fokus dari SPRE ke NAYZ juga mengindikasikan penyesuaian strategi berdasarkan peluang yang dinilai lebih memungkinkan untuk dijalankan.
Potensi langkah lanjutan setelah akuisisi
Jika akuisisi NAYZ rampung, Seiko berpeluang melanjutkan dengan penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue. Skema ini disebut dapat menjadi sarana untuk mengintegrasikan berbagai aset atau bisnis milik Seiko ke dalam ekosistem NAYZ.
Namun, rencana rights issue itu masih bergantung pada selesainya rangkaian penawaran tender wajib. Dengan demikian, fokus utama saat ini tetap berada pada penyelesaian negosiasi akuisisi dan pemenuhan kewajiban regulasi yang menyertainya.
Bagi pasar, langkah Seiko ke NAYZ menjadi perkembangan yang penting untuk dicermati karena menyangkut perubahan pengendali, penyesuaian struktur kepemilikan, dan kemungkinan aksi korporasi lanjutan yang dapat memengaruhi arah bisnis perseroan.
