BBCA Mulai Tenang Setelah Aksi Jual Asing, Valuasi Rp6.000 Dinilai Masih Murah

Tekanan jual pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mulai menunjukkan tanda mereda setelah aksi koreksi yang cukup tajam dalam beberapa pekan terakhir. Pada perdagangan sesi I Senin (27/4/2026), saham BBCA melemah tipis 0,83 persen ke level Rp 6.000 per lembar, jauh lebih tenang dibandingkan penurunan 5,84 persen pada Jumat (24/4/2026) yang disertai jual bersih investor asing senilai Rp 2,1 triliun.

Pergerakan yang lebih terkendali ini memberi sinyal bahwa tekanan distribusi di pasar mulai berkurang. Sejumlah analis menilai kondisi tersebut membuka peluang bagi saham bank berkapitalisasi besar ini untuk bergerak lebih stabil, terutama karena fondasi bisnis BBCA masih dinilai kuat di tengah pasar yang berfluktuasi.

Volume jual mulai menyusut

Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai volume penjualan BBCA saat ini sudah lebih rendah dibandingkan fase koreksi sebelumnya. Kondisi itu menunjukkan aksi distribusi yang sempat menekan harga mulai mereda.

“Volume penjualan kini lebih rendah dibandingkan fase koreksi sebelumnya, yang menandakan tekanan distribusi mulai mereda,” ujar Herditya. Pernyataan tersebut sejalan dengan pergerakan harga yang tidak lagi tertekan sedalam pekan lalu, meski sentimen pasar masih belum sepenuhnya pulih.

Secara teknikal, ruang koreksi lanjutan juga dinilai mulai terbatas. Area dukungan BBCA berada di level Rp 5.900, sementara peluang penguatan moderat dapat mengarah ke kisaran Rp 6.575 hingga Rp 7.025 per saham.

Valuasi dianggap makin menarik

Dari sisi fundamental, valuasi BBCA dinilai berada pada level yang menarik untuk investor. Analis DBS Muhammad Nurkholis Syafruddin menyebut rasio price-to-book value forward BBCA berada di 2,6 kali, atau disebut menyentuh level terendah sejak krisis global.

“Valuasi saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan profitabilitas dan ketahanan laba BBCA. Penurunan valuasi lebih banyak dipicu faktor eksternal,” kata Nurkholis. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa koreksi harga saham tidak sepenuhnya disebabkan oleh melemahnya kinerja perseroan.

Bagi pelaku pasar, kondisi ini penting karena harga saham dan kualitas fundamental tidak selalu bergerak searah dalam jangka pendek. Dalam kasus BBCA, tekanan yang datang dari faktor pasar justru membuat valuasi terlihat lebih murah dibandingkan sebelumnya.

Fundamental tetap kokoh

Kualitas aset BBCA juga masih terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau NPL di level 1,8 persen. Selain itu, rasio kecukupan modal atau CAR tercatat sebesar 29,8 persen pada tahun sebelumnya, menandakan bantalan permodalan yang kuat untuk menjaga ketahanan bisnis bank.

Nurkholis menilai kombinasi fundamental yang kokoh, valuasi yang sudah berada di area siklikal terendah, dan kinerja yang stabil membuat BBCA tetap relevan untuk investor jangka menengah hingga panjang. Hal ini menjadi alasan mengapa saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut masih mendapat perhatian di tengah tekanan jangka pendek.

Ruang dividen masih terbuka

Ketahanan laba dan posisi permodalan yang kuat juga membuka ruang bagi manajemen untuk meningkatkan rasio pembagian dividen pada 2026. Proyeksi tersebut bahkan disebut berpotensi berada di atas rata-rata historis 65 persen, seiring kemampuan bank menjaga laba dan likuiditas secara konsisten.

Bagi investor, sinyal ini menambah daya tarik BBCA selain faktor kestabilan harga. Jika tekanan jual asing terus menurun dan fundamental tetap terjaga, saham BBCA berpeluang mempertahankan pemulihan bertahap di tengah pemulihan minat pasar terhadap emiten perbankan besar.

Exit mobile version