Direktur OCBC NISP Bongkar Stereotip Gender di Bank, Kisahnya Justru Dibuktikan Data 40 Persen Pemimpin Perempuan

Direktur Bank OCBC NISP, Lili Surjani Budiana, menyoroti pentingnya keberanian perempuan dalam mengambil peluang karier di sektor perbankan. Baginya, emansipasi bukan hanya soal bekerja, tetapi juga kebebasan memilih jalan hidup dan berani mengaktualisasikan diri.

Lili menilai pandangan itu tetap relevan di dunia korporasi yang menuntut ketelitian, ketegasan, dan daya tahan tinggi. Pengalaman panjangnya di industri keuangan menunjukkan bahwa kesempatan yang diambil dengan keberanian dapat membuka ruang belajar yang lebih besar.

Makna emansipasi di mata Lili

Menurut Lili, emansipasi berarti setiap perempuan memiliki kebebasan menentukan pilihan hidup, termasuk memilih menjadi ibu rumah tangga atau meniti karier profesional. Ia menekankan bahwa keputusan itu harus lahir dari kesadaran diri dan keberanian untuk memanfaatkan kesempatan yang datang.

"Secara pribadi, makna emansipasi adalah setiap Perempuan harus memiliki kebebasan untuk mengaktualisasikan diri. Dalam hal ini berani untuk memilih dan mengambil kesempatan," ujar Lili Surjani Budiana, Direktur Bank OCBC NISP.

Pernyataan itu mencerminkan perjalanan kariernya yang tidak selalu berada di jalur yang mudah. Lili memulai karier dari fungsi legal sebelum kemudian mendapat tanggung jawab baru di Deutsche Bank pada bagian operasional pinjaman.

Berani keluar dari zona nyaman

Saat menerima tugas baru itu, Lili menghadapi bidang yang benar-benar asing baginya. Ia mengaku sempat ragu, tetapi akhirnya memilih untuk mengambil tantangan tersebut karena melihatnya sebagai peluang berharga untuk berkembang.

"Memang tidak mudah, bahkan struggling. Tapi ternyata, itu adalah salah satu kesempatan yang paling berharga untuk saya," ucapnya.

Keputusan itu membawanya pada pemahaman yang lebih mendalam mengenai proses kredit. Pengalaman itu juga menjadi sangat penting ketika krisis ekonomi 1998 terjadi dan perbankan menghadapi tekanan besar akibat lonjakan kredit macet serta perubahan suku bunga yang cepat.

Lili menyebut situasi tersebut sebagai pengalaman yang membuka banyak pelajaran. Ia menggambarkannya sebagai "blessing in disguise" karena dari masa sulit itu ia dapat belajar lebih banyak tentang cara kerja bank dalam menghadapi krisis.

Konsistensi menjadi kunci

Setelah pengalaman itu, Lili bergabung dengan OCBC Indonesia yang kemudian merger dengan Bank OCBC NISP pada 2011. Dari rangkaian perjalanan tersebut, ia melihat bahwa setiap fase karier selalu membawa ruang untuk tumbuh jika dijalani dengan terbuka.

Ia mendorong perempuan untuk tidak sekadar menerima peluang, tetapi juga menjadikannya sebagai sarana belajar. Menurutnya, keberhasilan yang bertahan lama tidak lahir secara instan dan memerlukan proses yang konsisten.

"Memang perlu waktu dan kemauan, karena menurut saya keberhasilan yang berkelanjutan tidak ada yang instan. Untuk mencapainya membutuhkan proses," kata Lili.

Masih ada stereotip, tetapi pembuktian menjadi jalan utama

Meski keterlibatan perempuan di sektor perbankan terus meningkat, Lili mengakui stereotip gender masih ada. Sejumlah pandangan lama masih menilai perempuan kurang tegas, kurang berani, atau terlalu mengandalkan perasaan dibanding logika.

"Kadang di hal tertentu, perempuan dianggap kurang tegas, dan laki-laki lebih cocok untuk melakukannya. Perempuan dianggap kurang berani, lebih menggunakan perasaan instead of logika," ungkapnya.

Menurut Lili, cara paling efektif untuk menjawab stereotip itu adalah dengan menunjukkan kompetensi secara nyata. Ia menilai perempuan harus membuktikan kemampuan lewat hasil kerja, konsistensi, dan kapabilitas dalam memegang tanggung jawab strategis.

Di Bank OCBC NISP sendiri, data tahun 2025 menunjukkan keterwakilan perempuan di posisi kepemimpinan senior mencapai 40 persen. Sementara itu, total karyawan perempuan mencapai 52 persen, yang menunjukkan partisipasi perempuan semakin kuat di berbagai level organisasi.

Lili menilai perkembangan itu menandakan perempuan kini tidak lagi terbatas pada fungsi pendukung. Mereka juga telah banyak menempati posisi strategis, termasuk di level direksi.

Karakter yang dibutuhkan industri perbankan

Lili juga menilai sektor perbankan justru membutuhkan karakter yang kerap melekat pada perempuan. Empati, ketelitian, kemampuan komunikasi, dan kepekaan terhadap risiko menjadi kualitas penting dalam industri yang mengandalkan kepercayaan dan prinsip kehati-hatian.

"Semua keunggulan ini sangat dibutuhkan dalam sektor perbankan yang membutuhkan kolaborasi, kepekaan terhadap risiko, serta mengutamakan kepercayaan dan prinsip kehati-hatian," tutur Lili.

Pandangan itu memperlihatkan bahwa pembahasan soal gender di perbankan tidak lagi berhenti pada soal representasi, tetapi juga pada kontribusi nyata yang dibawa oleh perempuan dalam kepemimpinan. Dengan semakin banyak perempuan menduduki peran strategis, sektor perbankan dinilai memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh melalui keberagaman cara pandang dan kekuatan kepemimpinan.

Terkait