Kementan Turun Tangan Saat Harga Ayam Jatuh di Bawah HPP, Pasokan Berlebih Bikin Peternak Menjerit

Kementerian Pertanian bergerak untuk meredam anjloknya harga ayam hidup di tingkat peternak yang dipicu kelebihan pasokan. Tekanan harga membuat sejumlah wilayah menjual livebird di bawah biaya pokok produksi, sehingga intervensi pasar menjadi langkah yang dianggap mendesak.

Masalah ini muncul ketika daya serap pasar tidak mampu mengimbangi produksi yang tersedia. Akibatnya, harga ayam hidup jatuh tajam dan menekan peternak mandiri yang sedang menghadapi biaya produksi tinggi.

Dorongan serap ayam hidup

Untuk menstabilkan harga, pemerintah mengeluarkan imbauan resmi pada 9 Juni 2026 melalui Surat Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Imbauan itu ditujukan kepada pelaku usaha agar menyerap ayam hidup atau livebird dari peternak mandiri.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, Hary Suhada, menyebut kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan. Ia juga menegaskan perlunya pengawalan dan evaluasi atas komitmen yang sudah disepakati agar benar-benar berdampak pada perbaikan kondisi perunggasan nasional.

Pengaturan produksi dari hulu ke hilir

Selain mendorong penyerapan livebird, Kementan juga berupaya mengendalikan produksi day old chicken atau DOC final stock ayam pedaging. Langkah ini ditempuh agar ekosistem perunggasan nasional berjalan lebih sehat dan tidak kembali memicu kelebihan pasokan.

Hary Suhada menekankan bahwa perbaikan harga di tingkat peternak harus berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan usaha perunggasan nasional. Menurut dia, pengendalian produksi dari hulu ke hilir menjadi bagian penting dalam menahan gejolak harga.

Data perunggasan jadi kunci kebijakan

Kementan juga menaruh perhatian pada integrasi data perunggasan yang valid antara pusat dan daerah. Pemerintah menilai sinkronisasi data dibutuhkan agar kebijakan yang disusun lebih tepat sasaran.

Hary Suhada meminta keterlibatan aktif dinas-dinas terkait untuk menyusun mekanisme dan langkah teknis dalam memperoleh data perunggasan yang akurat. Tanpa data yang selaras, pengendalian produksi dan penyerapan pasar berisiko meleset dari kondisi lapangan.

Peternak mandiri tertekan biaya

Di sisi lain, peternak mandiri menghadapi tekanan ganda karena harga jual turun sementara modal produksi membengkak. Asep Saepudin dari Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia atau Permindo menyebut kondisi itu sudah menjadi musibah bagi peternak.

Ia mengatakan harga ayam di tingkat peternak bisa berada di kisaran Rp 15.000 per kilogram, sedangkan di Jawa Barat bahkan disebut turun ke Rp 13.000-14.000 per kilogram. Sementara itu, biaya pokok produksi peternak dilaporkan telah naik ke kisaran Rp 22.000 hingga Rp 23.000 per kilogram.

Tekanan pasar dan keberlanjutan usaha

Selisih yang lebar antara harga jual dan HPP membuat peternak berada dalam posisi yang sangat rentan. Dalam situasi seperti ini, serapan pasar menjadi penentu utama agar usaha perunggasan mandiri tetap bertahan.

Pemerintah kini menempatkan stabilisasi harga livebird sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sektor perunggasan nasional. Di saat yang sama, efektivitas langkah itu akan sangat bergantung pada kedisiplinan pelaku usaha menyerap pasokan dan pada ketepatan data yang dipakai untuk mengatur produksi.

Terkait