Mahatmi Rismartanti mencatat sejarah sebagai perempuan pertama asal Indonesia yang menjadi pengemudi bus di Jepang. Ia menjalani debutnya di balik kemudi setelah menyelesaikan pelatihan selama enam bulan dan memenuhi syarat mengemudi yang ketat.
Kisah Mahatmi menarik perhatian karena hadir di tengah krisis pengemudi bus yang sedang dihadapi banyak perusahaan transportasi di Jepang. Kekurangan tenaga kerja itu membuat sejumlah operator memangkas rute dan mengurangi frekuensi layanan.
Perempuan berusia 27 tahun tersebut direkrut oleh Tokyu Bus, salah satu operator bus besar di Jepang. Ia bergabung bersama dua warga negara Indonesia lainnya melalui skema izin tinggal Pekerja Berketerampilan Khusus Jepang.
Kebijakan itu menjadi salah satu langkah yang digunakan Jepang untuk menutup kekurangan tenaga kerja. Di sektor transportasi bus, kebutuhan tersebut dinilai makin mendesak seiring bertambahnya jumlah pekerja yang mendekati masa pensiun.
Jalan Panjang Menuju Balik Kemudi
Mahatmi pindah ke Jepang pada September tahun lalu untuk mengejar peluang tersebut. Namun, kedatangannya tidak langsung membuatnya bisa bekerja sebagai sopir bus karena ia harus melalui sejumlah tahapan terlebih dahulu.
Setibanya di Jepang, ia wajib memiliki surat izin mengemudi khusus. Selain itu, ia juga harus memperkuat kemampuan bahasa Jepang, yang menjadi tantangan besar dalam proses adaptasinya.
Kemampuan mengemudi Mahatmi disebut baik, tetapi komunikasi dalam bahasa Jepang menjadi hambatan utama. Ia lalu menghabiskan waktu berjam-jam di rumah untuk mempelajari buku panduan mengemudi agar bisa mengejar standar yang ditetapkan.
Upaya itu membuahkan hasil setelah enam bulan pelatihan di Jepang. Pada Maret, Mahatmi akhirnya resmi menjalani debut sebagai pengemudi bus.
Bermula dari Impian Masa Kecil
Menjadi sopir bus di Jepang bukan keputusan yang muncul tiba-tiba bagi Mahatmi. Pekerjaan itu disebut sebagai impiannya sejak kecil, sehingga ia langsung tertarik ketika melihat lowongan yang tersedia.
Ia mengaku sangat senang bisa meraih kesempatan tersebut. Menurutnya, begitu melihat iklan lowongan itu, ia merasa pekerjaan itu memang ditujukan untuk dirinya.
Cerita Mahatmi juga memperlihatkan bahwa peluang kerja lintas negara tidak selalu hanya ditentukan oleh kemampuan teknis. Dalam kasusnya, tantangan bahasa justru menjadi ujian paling berat yang harus diatasi sebelum benar-benar bisa bertugas di lapangan.
Hal itu penting karena pengemudi bus di Jepang tidak hanya bertanggung jawab mengoperasikan kendaraan. Mereka juga perlu berinteraksi dengan penumpang dan bekerja sesuai prosedur yang menuntut pemahaman bahasa secara tepat.
Kebutuhan Besar di Industri Bus Jepang
Rekrutmen tenaga kerja asing oleh perusahaan bus di Jepang tidak terjadi tanpa alasan. Sejumlah operator tengah menghadapi kekurangan pengemudi yang berdampak langsung pada layanan kepada masyarakat.
Akibat kekurangan itu, beberapa perusahaan terpaksa memangkas rute dan menurunkan frekuensi operasional. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan tenaga kerja telah menyentuh aspek pelayanan publik sehari-hari.
Di perusahaan tempat Mahatmi bekerja, komposisi tenaga kerja didominasi oleh pekerja berusia 50 tahun ke atas. Ketika makin banyak karyawan mendekati masa pensiun, kebutuhan akan pengemudi baru pun menjadi semakin mendesak.
Pejabat eksekutif Tokyu Bus, Okano Kyoko, menyatakan perusahaan menghadapi kekurangan tenaga kerja yang diperkirakan akan makin memburuk ke depan. Karena itu, perusahaan menilai tidak punya pilihan selain terus melangkah maju dengan membuka peluang bagi tenaga kerja asing.
Kehadiran Mahatmi dan dua WNI lain di Tokyu Bus menjadi gambaran nyata perubahan itu. Di tengah tekanan kekurangan sopir, operator mulai melihat pekerja asing berketerampilan khusus sebagai bagian dari solusi operasional.
Bagi Mahatmi, keberhasilan ini bukan hanya soal pekerjaan baru di luar negeri. Perjalanannya juga menunjukkan bahwa impian lama bisa terwujud lewat proses yang panjang, disiplin belajar, dan kemampuan beradaptasi dengan tuntutan kerja di lingkungan yang sama sekali berbeda.
Di sisi lain, kisahnya mencerminkan perubahan yang sedang berlangsung di industri transportasi Jepang. Saat kebutuhan tenaga kerja terus meningkat, peran pekerja asing seperti Mahatmi menjadi semakin penting dalam menjaga layanan bus tetap berjalan.
Source: oto.detik.com






