PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp 44,47 triliun kepada pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Jakarta. Kebijakan ini menjadi sorotan karena nilainya besar dan mencerminkan porsi laba yang tinggi dari kinerja perseroan.
Setiap pemegang saham akan menerima dividen Rp 476,95 per lembar saham, lebih tinggi dibandingkan perolehan tahun buku 2024 yang tercatat Rp 466,18 per saham. Nilai tersebut setara dengan dividend payout ratio 79 persen dari laba bersih konsolidasi tahun buku 2025 yang mencapai Rp 56,3 triliun.
Pembagian laba dan porsi yang ditahan
Dari total dividen yang disetujui, Rp 9,3 triliun sudah lebih dulu disalurkan dalam bentuk dividen interim pada Januari. Sisa dana sebesar Rp 35,17 triliun akan dibagikan setelah rapat, sehingga total distribusi laba tetap mengikuti keputusan pemegang saham yang telah disahkan.
Manajemen juga menyiapkan 21 persen laba bersih sebagai saldo laba ditahan. Dana ini digunakan untuk memperkuat modal perseroan dan menjaga ruang pertumbuhan bisnis ke depan.
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menyebut keputusan tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap para pemangku kepentingan. Ia mengatakan, “Ini mencerminkan komitmen Perseroan dalam menghadirkan nilai optimal bagi negara dan seluruh pemegang saham.”
Kinerja yang menopang pembagian dividen
Keputusan dividen besar itu didukung oleh kinerja intermediasi yang tetap solid. Penyaluran kredit Bank Mandiri tumbuh 13,4 persen secara tahunan menjadi Rp 1.895 triliun, sementara dana pihak ketiga naik 23,9 persen menjadi Rp 2.106 triliun.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan kemampuan perseroan menjaga ekspansi bisnis sekaligus mengumpulkan dana masyarakat dalam volume besar. Di saat yang sama, laba bersih konsolidasi mencapai Rp 56,3 triliun dan menjadi dasar pembagian dividen tunai kepada investor.
Riduan menegaskan bahwa hasil RUPST juga mencerminkan keyakinan pemegang saham terhadap fondasi bisnis Bank Mandiri. Ia menyampaikan, “Keputusan pemegang saham hari ini mencerminkan kepercayaan atas fundamental yang kami jaga dan arah pertumbuhan yang kami bangun.”
Dividen yield dan pergerakan saham BMRI
Dengan harga saham penutupan di level Rp 4.430, imbal hasil dividen atau dividend yield Bank Mandiri tercatat sebesar 10,77 persen. Angka ini membuat distribusi laba BMRI menjadi perhatian pelaku pasar yang menilai kombinasi antara dividen besar dan stabilitas kinerja bank pelat merah.
Di sisi lain, saham BMRI sempat mengalami tekanan jual pada perdagangan berikutnya. Pada Kamis pagi, saham tersebut sempat naik ke Rp 4.450, lalu terkoreksi ke Rp 4.380 sebelum bergerak lebih stabil di kisaran Rp 4.400 sampai Rp 4.420 pada sesi pertama.
Buyback saham ikut disetujui
Selain pembagian dividen, RUPST juga menyetujui langkah pembelian kembali saham atau buyback. Perseroan menyiapkan anggaran maksimal Rp 1,17 triliun untuk aksi tersebut hingga April 2027.
Saham treasuri hasil buyback nantinya akan digunakan untuk program kepemilikan saham bagi internal perusahaan sesuai regulasi OJK. Manajemen menyebut langkah ini ditempuh untuk menjaga kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang perseroan yang ditopang fundamental solid.
Riduan kembali menekankan bahwa kebijakan tersebut penting untuk memperkuat persepsi pasar terhadap arah bisnis Bank Mandiri. Ia menuturkan, “Langkah ini ditempuh untuk menjaga kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang perseroan yang ditopang fundamental solid.”







