Industri smelter nikel di Indonesia sedang menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, pasokan bijih nikel domestik terancam menipis akibat pemangkasan kuota produksi, sementara di sisi lain biaya bahan baku ikut terdorong naik karena harga sulfur melonjak.
Kondisi ini muncul saat harga nikel di pasar global justru menguat dan mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2024. Namun, penguatan harga komoditas itu belum cukup meredam beban operasional di dalam negeri karena masalah utama justru datang dari ketersediaan bahan baku dan biaya pengolahan.
Kuota Bijih Dipangkas, Smelter Tertekan
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, menyebut pengurangan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB 2026 berisiko mendorong pabrik hilir menurunkan kapasitas. Ia juga menyoroti revisi formula Harga Patokan Mineral atau HPM oleh Kementerian ESDM yang berpotensi mengerek harga bahan baku domestik.
Arif mengatakan tekanan itu datang bersamaan dengan kenaikan biaya energi dan bahan baku, terutama sulfur, yang ikut terdorong oleh tensi geopolitik di Timur Tengah. Menurut dia, pembatasan kuota produksi bijih nikel makin memberatkan industri hilirisasi nikel di Indonesia.
Pemangkasan produksi nasional disebut berada di kisaran 250—260 juta ton, turun dari sebelumnya 364 juta ton. Jika realisasi itu terjadi, industri smelter dinilai akan makin bergantung pada pasokan impor bijih dari Filipina.
Maluku Utara Jadi Wilayah Paling Rentan
Risiko pasokan paling terasa di Maluku Utara yang hampir setiap tahun mengalami defisit bijih lokal. Arif menjelaskan, wilayah itu kerap harus menutup kekurangan pasokan dengan membeli dari Sulawesi dan mengimpor bijih dari Filipina untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri setempat.
Ketergantungan pada pasokan luar daerah dan impor membawa risiko logistik serta cuaca. Situasi ini membuat rantai pasok smelter di wilayah timur Indonesia menjadi lebih rapuh ketika ketersediaan bijih domestik tidak seimbang dengan kebutuhan pabrik.
Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia atau Perhapi memperkirakan ada celah kekurangan pasokan sekitar 100 juta ton. Angka itu muncul karena kebutuhan smelter domestik mencapai 350—360 juta ton, sementara suplai yang tersedia tidak cukup menutup permintaan.
Dampak Menjalar dari Hulu ke Hilir
Sudirman dari Perhapi menilai pemotongan produksi bijih yang besar tidak hanya memukul smelter, tetapi juga merembet ke industri hulu dan sektor pendukung lain. Ia menekankan bahwa pemerintah perlu menghitung ulang kebutuhan riil bijih nikel untuk industri pengolahan dalam negeri secara lebih akurat.
Perhapi juga menilai Indonesia sebagai negara dengan cadangan dan produksi bijih nikel terbesar di dunia semestinya memiliki data kebutuhan domestik yang presisi. Tujuannya agar kebijakan produksi dan pasokan tidak justru menekan sektor hilirisasi yang selama ini menjadi andalan nilai tambah mineral nasional.
Tekanan itu kini sudah terlihat di level perusahaan. Zhejiang Huayou Cobalt Co. memutuskan menghentikan sejumlah lini produksi di PT Huafei Nickel Cobalt mulai 1 Mei 2026 sebagai respons atas lonjakan harga sulfur dunia.
Harga Sulfur Mengubah Biaya Produksi HPAL
Smelter berbasis High Pressure Acid Leach atau HPAL sangat bergantung pada sulfur dalam proses produksinya. Saat harga sulfur naik, beban produksi MHP ikut meningkat karena bahan ini menjadi komponen utama untuk bahan baku baterai kendaraan listrik.
Kenaikan harga sulfur dipicu oleh konflik di Timur Tengah, dengan sekitar 50 persen pasokan global berasal dari Teluk Persia. Ketika jalur pasokan utama menghadapi gangguan, industri pengolahan nikel langsung merasakan tekanannya melalui biaya yang lebih tinggi dan pasokan yang lebih sulit diprediksi.
Data pemasok sulfur utama dunia pada 2025 menunjukkan Arab Saudi menjadi eksportir terbesar dengan volume 1,76 juta ton. Di bawahnya ada Qatar 0,967 juta ton, Uni Emirat Arab 0,918 juta ton, Kanada 0,515 juta ton, Kuwait 0,366 juta ton, Malaysia 0,146 juta ton, dan Singapura 0,115 juta ton.
Di pasar, harga nikel di London Metal Exchange tercatat US$19.272 per ton pada Kamis pagi. Meski harga logam dasar itu menguat, gangguan pasokan sulfur tetap menjadi tantangan besar bagi smelter yang memproduksi MHP dan menopang rantai pasok industri baterai kendaraan listrik.
