Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis, didorong pelemahan dolar Amerika Serikat dan meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah kekhawatiran eskalasi konflik AS-Iran. Harga emas spot naik 1,9% ke US$ 4.629,83 per ons setelah sebelumnya sempat turun ke level terendah sejak 31 Maret pada sesi perdagangan sebelumnya.
Penguatan juga terlihat pada kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni yang naik 1,8% menjadi US$ 4.642,90 per ons. Meski bergerak naik, harga emas masih tercatat melemah sekitar 0,9% secara bulanan.
Dolar melemah, emas kembali lebih menarik
Pelemahan dolar AS terhadap yen Jepang menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan emas. Saat dolar melemah, emas yang dipatok dalam mata uang tersebut menjadi lebih terjangkau bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Kondisi itu membantu memperbaiki sentimen pasar setelah emas sempat tertekan pada perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini menunjukkan bahwa perubahan nilai dolar masih menjadi salah satu pemicu penting bagi harga logam mulia.
Ketegangan Timur Tengah ikut mengangkat permintaan safe haven
Selain faktor mata uang, kekhawatiran terhadap situasi geopolitik di Timur Tengah turut mendorong permintaan emas. Analis independen Ross Norman menilai pasar mulai melihat peluang pemulihan harga emas di tengah ketidakpastian yang meningkat.
“Ada indikasi harga emas mulai menemukan titik dasar sementara, seiring meningkatnya ketidakpastian di kawasan tersebut,” ujarnya kepada Reuters. Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi dampak konflik yang lebih luas.
Laporan sebelumnya menyebut Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan terkait rencana serangan militer terhadap Iran. Kabar tersebut memicu kehati-hatian di pasar karena dinilai dapat memperbesar risiko eskalasi konflik.
Masih tertekan dalam hitungan bulanan
Walau emas kembali naik, pergerakannya belum sepenuhnya pulih dari tekanan sebelumnya. Logam mulia itu sempat turun sekitar 12% sejak konflik dimulai, di tengah perubahan ekspektasi pasar terhadap inflasi dan suku bunga.
Kenaikan harga energi ikut memunculkan kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi, sehingga pasar menilai peluang suku bunga bertahan lebih tinggi masih terbuka. Kondisi ini cenderung menekan emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil.
Analis komoditas WisdomTree, Nitesh Shah, menilai pergerakan emas saat ini mulai mengikuti pola yang lazim saat risiko geopolitik meningkat. “Emas mulai bergerak sesuai ekspektasi, yakni naik saat risiko geopolitik meningkat, terutama dengan spekulasi eskalasi konflik lebih lanjut,” katanya.
Logam mulia lain ikut bergerak naik
Sentimen positif juga tercermin pada logam mulia lain yang ikut menguat. Harga perak naik 2,9% menjadi US$ 73,57 per ons, platinum naik 4,1% ke US$ 1.955,70, dan paladium naik 2,2% menjadi US$ 1.490,36 per ons.
Namun, ketiganya masih berada dalam tren penurunan bulanan untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Pergerakan ini menunjukkan pasar logam mulia masih sensitif terhadap perubahan nilai dolar, arah suku bunga, dan perkembangan geopolitik yang terus dipantau investor.
Source: www.beritasatu.com