
PT Adhi Karya (Persero) Tbk atau ADHI membukukan laba bersih Rp 154 miliar pada Triwulan I 2026. Capaian ini naik tajam dari periode yang sama tahun sebelumnya, ketika laba bersih perseroan masih berada di level Rp 317 juta.
Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan usaha yang mencapai Rp 2,9 triliun. Kontribusi datang dari pengerjaan proyek infrastruktur nasional serta kenaikan kontrak baru yang meningkat signifikan pada awal periode berjalan.
Pendapatan ditopang proyek strategis
Dari total pendapatan usaha, ADHI mencatat kontribusi Joint Operation sebesar Rp 1,2 triliun dan Non Joint Operation Rp 1,7 triliun. Sejumlah proyek yang memberi sumbangan besar antara lain Jalan Tol Jogja-Bawen Paket 1, Jalan Tol Solo-Jogja 1.1, dan proyek EPCC Jetty Propylene.
Komposisi itu menunjukkan bahwa aktivitas konstruksi dan engineering perusahaan tetap bergerak di sejumlah proyek prioritas. Sumber pendapatan yang berasal dari lebih dari satu skema kerja juga memberi gambaran bahwa portofolio usaha ADHI masih aktif di berbagai lini.
Kontrak baru melonjak
Di sisi perolehan order, ADHI mengantongi kontrak baru senilai Rp 4,72 triliun hingga akhir Maret 2026. Nilai tersebut tumbuh 131,5 persen secara tahunan atau year on year.
Lonjakan kontrak baru ini penting bagi emiten konstruksi pelat merah karena menjadi dasar pembentukan pendapatan di periode berikutnya. Dengan tambahan kontrak tersebut, posisi fundamental ADHI di awal tahun anggaran terlihat lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya.
Corporate Secretary ADHI, Rozi Sparta, mengatakan peningkatan laba bersih mencerminkan pemulihan kinerja perseroan. Ia menyebut capaian itu merupakan hasil dari fundamental business review yang telah dilakukan pada laporan audited tahun buku 2025.
Laba kotor dan EBITDA ikut menguat
Selain laba bersih, ADHI juga mencatat laba kotor sebesar Rp 553 miliar. Pada saat yang sama, EBITDA perseroan naik 46 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan mencapai Rp 464 miliar.
Kombinasi laba kotor dan EBITDA yang lebih baik menunjukkan bahwa perbaikan kinerja tidak hanya terjadi di level akhir, tetapi juga di operasional. Kondisi ini memberi sinyal bahwa efisiensi dan kualitas pendapatan perusahaan mulai membaik.
Rozi Sparta menegaskan bahwa triwulan I 2026 menjadi awal yang positif bagi ADHI setelah proses evaluasi internal. Pernyataan itu sejalan dengan tren pemulihan yang tercermin dari peningkatan profitabilitas dan pertumbuhan kontrak.
Struktur keuangan masih terjaga
Hingga Triwulan I 2026, total aset ADHI tercatat mencapai Rp 28,1 triliun. Di sisi lain, total liabilitas berada di angka Rp 24,7 triliun dan ekuitas sebesar Rp 3,5 triliun.
Perseroan juga menjaga rasio keuangan pada level yang dinilai masih sehat. Current Ratio ADHI tercatat 1,01 kali, sementara rasio Debt to Equity atau DER berbasis bunga berada di 2,4 kali.
Rozi Sparta menyampaikan bahwa seluruh rasio tersebut telah memenuhi covenant obligasi ADHI. Hal ini dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pemegang obligasi dan investor lainnya terhadap kondisi keuangan perusahaan.
Fokus pada proyek bermargin sehat
Dalam menghadapi tantangan industri konstruksi, ADHI menyatakan akan tetap disiplin menjaga arus kas. Perseroan juga akan lebih selektif dalam memilih proyek baru, terutama yang memiliki profil pembayaran dan margin keuntungan lebih baik.
Arah kebijakan itu menunjukkan bahwa manajemen ingin menjaga pertumbuhan tetap seimbang dengan pengendalian risiko. Dengan pendapatan Rp 2,9 triliun, kontrak baru Rp 4,72 triliun, dan laba bersih Rp 154 miliar, ADHI memasuki periode berikutnya dengan posisi yang lebih solid di tengah kebutuhan menjaga keberlanjutan usaha.









