Sejumlah pengemudi ojek online turun dalam aksi May Day di Monas, Jakarta Pusat, untuk menyuarakan keberatan atas potongan aplikasi yang dinilai terlalu besar. Keluhan itu terutama datang dari para driver yang merasa penghasilan harian mereka makin tipis setelah terkena berbagai skema potongan.
Salah satu peserta aksi, Novita Meliana Pratiwi, menyebut beban potongan dari aplikator bisa mencapai sekitar 40 persen jika dihitung secara keseluruhan. Ia mengatakan angka itu bukan hanya berasal dari potongan per pesanan, tetapi juga dari biaya tambahan lain yang ikut mengurangi pendapatan.
Potongan yang dirasa berlapis
Novita menjelaskan bahwa sistem potongan yang diterapkan membuat pengemudi menghadapi beban ganda. Menurut dia, setiap order sudah dikenakan potongan 20 persen, lalu setelah 10 pesanan masih ada tambahan pemotongan Rp 20 ribu.
“Setiap order dipotong 20 persen. Terus per 10 orderan kita dipotong lagi Rp 20 ribu. Jadi double, itu yang bikin berat,” kata Novita.
Skema tersebut dinilai memberatkan terutama bagi pengemudi yang mengandalkan ojol sebagai sumber penghasilan utama. Novita datang bersama 10 rekan sesama pengemudi dari Pademangan, Jakarta Utara, dan menyebut seluruh rombongannya fokus penuh di pekerjaan ojol tanpa usaha sampingan.
Mengandalkan order sebanyak mungkin
Dalam sehari, Novita mengaku bisa menyelesaikan sekitar 20 sampai 25 pesanan sejak pagi hingga sore. Namun, jumlah itu tetap terasa belum cukup ringan karena penghasilan bersih yang dibawa pulang tetap tergerus potongan aplikasi.
Ia menyebut pengemudi justru bisa merugi jika hanya menerima sekitar 10 orderan. Karena itu, banyak driver harus mengejar pesanan lebih banyak agar sisa pendapatan masih layak untuk kebutuhan harian.
“Kalau cuma 10 orderan, kita malah rugi. Jadi harus ngejar banyak order biar bisa bawa pulang uang cukup,” ujarnya.
Tuntutan ke pemerintah dan aplikator
Dalam aksi tersebut, para pengemudi meminta agar batas maksimal potongan aplikasi diturunkan menjadi 10 persen. Mereka juga mendesak agar biaya tambahan per paket pesanan dihapus supaya pendapatan pengemudi tidak terus tergerus.
Tuntutan ini muncul karena banyak driver menilai struktur biaya yang berlaku saat ini tidak sebanding dengan beban kerja di lapangan. Mereka berharap pemerintah dan perusahaan aplikasi mau meninjau ulang kebijakan yang dinilai paling langsung memengaruhi pendapatan harian para mitra pengemudi.
Keluhan soal keamanan pengemudi perempuan
Selain soal potongan, Novita juga menyoroti persoalan lain yang dirasakan pengemudi perempuan. Ia menilai fitur filter untuk mendapatkan penumpang sesama perempuan belum bekerja efektif di lapangan karena masih kerap menghasilkan penumpang laki-laki.
“Kita sudah pakai filter penumpang perempuan, tapi masih saja dapat penumpang laki-laki. Jadi kayaknya belum efektif,” katanya.
Keluhan itu menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi driver ojol tidak hanya berkaitan dengan pendapatan, tetapi juga kenyamanan dan keamanan saat bekerja. Bagi pengemudi perempuan, sistem yang lebih akurat dinilai penting agar mereka bisa menjalankan pekerjaan dengan rasa aman.
Perjuangan yang berkaitan dengan kebutuhan keluarga
Bagi Novita, pekerjaan sebagai ojol bukan sekadar sumber tambahan, melainkan penopang utama keluarga. Ia mengaku harus membiayai kebutuhan anak-anaknya seorang diri setelah suaminya meninggal.
“Saya ibu rumah tangga sekaligus bapak juga. Suami sudah meninggal, jadi saya yang tanggung kebutuhan anak-anak,” tuturnya.
Karena itu, setiap perubahan tarif dan potongan aplikasi langsung berdampak pada kondisi rumah tangga pengemudi seperti dirinya. Aksi May Day di Monas pun menjadi ruang bagi para driver untuk menegaskan bahwa kebijakan potongan yang lebih adil sangat menentukan keberlangsungan hidup mereka. Setelah rangkaian aksi selesai, Novita dan rekan-rekannya berencana kembali bekerja seperti biasa untuk mencari nafkah dari jalanan.







