Realisasi investasi di Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai Rp 498,8 triliun dan langsung memberi sinyal kuat bagi ekonomi nasional. Angka ini tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus menempatkan capaian tiga bulan pertama itu setara 24,4 persen dari target tahunan Rp 2.004,1 triliun.
Komposisi investasi pada awal tahun ini juga memperlihatkan keseimbangan yang nyaris seimbang antara modal asing dan modal domestik. Penanaman Modal Asing atau PMA tercatat Rp 250 triliun, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri atau PMDN mencapai Rp 248,8 triliun.
Sebaran investasi makin merata
Pemerataan juga terlihat dari distribusi wilayah. Investasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp 251,3 triliun atau 50,4 persen, sedikit lebih tinggi dibanding Pulau Jawa yang mencatat Rp 247,5 triliun.
Pola ini menunjukkan bahwa arus modal tidak lagi terkonsentrasi di satu wilayah saja. Pergerakan tersebut menjadi penting karena bisa mendorong aktivitas ekonomi di daerah dan memperluas pusat pertumbuhan baru.
Dari sisi sektor, industri logam dasar dan barang logam menjadi yang paling banyak menarik modal dengan nilai Rp 69,4 triliun. Di bawahnya ada sektor jasa lainnya dengan realisasi Rp 64,2 triliun.
Properti dan logistik ikut menguat
Sektor properti yang mencakup perumahan, kawasan industri, dan perkantoran juga mencatat realisasi besar sebesar Rp 48,4 triliun. Sektor transportasi dan pergudangan menyusul dengan nilai investasi Rp 45,4 triliun.
Data itu menunjukkan bahwa investasi tidak hanya bertumpu pada industri pengolahan, tetapi juga pada sektor pendukung aktivitas ekonomi. Kenaikan di properti dan logistik biasanya berkaitan dengan ekspansi usaha, pembangunan fasilitas, serta kebutuhan rantai pasok yang lebih luas.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia, Mohammad Faisal, menilai capaian tersebut tergolong tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menyoroti bahwa pertumbuhan terbesar justru datang dari PMDN.
Menurut Faisal, investasi pembelian barang modal dari pemerintah maupun swasta memang meningkat, dan banyak di antaranya masuk dalam klasifikasi PMDN. Ia juga menyebut tren penguatan investasi domestik sudah mulai terlihat sejak 2025.
PMDN menguat, PMA lebih terbatas
Faisal mengatakan minat investasi asing saat ini cenderung lebih terbatas pada sektor tertentu. Meski begitu, ia tetap melihat adanya tambahan investasi asing di sektor-sektor yang terkait hilirisasi.
“Investasi yang dalam negeri terutama, dan tren itu sudah mulai dari 2025. PMA itu sebetulnya lebih terbatas minatnya walaupun masih ada penambahan investasi asing untuk yang sektor-sektor terkait hilirisasi, tapi pada umumnya kalau yang PMA itu agak terbatas, tapi yang PMDN ini memang naik,” kata Faisal.
Ia juga menduga lonjakan PMDN ikut didorong program prioritas pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, tingginya aktivitas investasi terlihat pada pembangunan serta pengadaan mesin industri.
“Dugaan saya ada memang di-trigger dari program prioritas pemerintah, MBG, lalu Koperasi Desa Merah Putih. Jadi, kalau kita melihat di sini makanya yang tinggi itu juga adalah investasi di pembangunan, ya selain juga mesin,” ujar Faisal.
Capaian kuartal I-2026 ini memberi gambaran bahwa iklim investasi masih bergerak kuat di tengah kebutuhan menjaga laju ekonomi. Dengan kontribusi yang hampir seimbang antara PMA dan PMDN, serta sebaran yang lebih merata ke luar Jawa, investasi menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan pada awal tahun ini.







