Pemerintah menyiapkan anggaran Rp18,04 triliun pada semester II untuk menjaga daya beli masyarakat dan meredam gejolak harga pangan. Dari total itu, bantuan pangan beras kembali menjadi salah satu instrumen utama yang ditujukan langsung ke jutaan penerima di seluruh Indonesia.
Atas arahan Presiden Prabowo Subianto, program bantuan beras diperpanjang selama tiga bulan dengan total anggaran Rp17,54 triliun. Bantuan ini akan disalurkan pada Juli hingga September kepada 33,24 juta penerima manfaat.
Bantuan beras kembali diperluas
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa kebijakan ini masuk dalam paket stimulus ekonomi semester II-2026. Pemerintah menempatkan program tersebut sebagai langkah untuk menjaga konsumsi rumah tangga di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas pangan.
Airlangga menjelaskan, program itu sudah dibahas lintas kementerian dan memperoleh arahan langsung dari Presiden Prabowo. Ia menegaskan bahwa penyaluran bantuan dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap memiliki akses pada bahan pangan pokok saat tekanan harga masih berpotensi terjadi.
Tekanan harga pangan jadi perhatian
Selain beras, pemerintah juga menyiapkan langkah untuk menahan kenaikan harga tahu dan tempe yang bergantung pada kedelai impor. Melalui program stabilisasi pasokan dan harga pangan, pemerintah memberikan subsidi kedelai sebesar Rp2.000 per kilogram kepada perajin tahu dan tempe.
Program itu disiapkan untuk kuota 250 ribu ton kedelai. Airlangga menyebut kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,5 juta ton per tahun, sehingga intervensi diarahkan pada sebagian pasokan yang paling berpengaruh terhadap biaya produksi pelaku usaha kecil.
Kebijakan tersebut ditujukan agar harga produk olahan kedelai tetap terjangkau bagi masyarakat. Pada saat yang sama, subsidi diharapkan bisa menahan tekanan biaya produksi yang kerap dirasakan perajin tahu dan tempe.
Masuk paket stimulus semester II-2026
Pemerintah menyusun paket stimulus ekonomi semester II-2026 dengan nilai total Rp26,34 triliun. Porsi terbesar anggaran diarahkan untuk perlindungan sosial dan stabilisasi pangan, dua sektor yang dinilai paling cepat memengaruhi konsumsi masyarakat.
Dalam paket itu, bantuan beras dan subsidi kedelai menjadi dua komponen yang saling melengkapi. Pemerintah ingin menjaga kestabilan harga sekaligus memastikan rumah tangga berpendapatan rendah tetap mendapat dukungan langsung saat situasi ekonomi belum sepenuhnya pasti.
Pemerintah juga menekankan bahwa kebijakan ini bukan langkah yang berdiri sendiri. Seluruh program telah melalui pembahasan antar kementerian sebelum mendapat persetujuan Presiden, sehingga pelaksanaannya diharapkan berjalan selaras dengan upaya pengendalian inflasi pangan dan perlindungan daya beli.
Source: www.viva.co.id






