Tiga pejabat Federal Reserve berbeda pandangan soal arah suku bunga setelah kebijakan terbaru bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Perbedaan ini muncul ketika ketidakpastian ekonomi meningkat akibat perang di Iran dan memicu debat baru tentang apakah The Fed masih perlu memberi sinyal pelonggaran.
Pemungutan suara pada Rabu lalu menghasilkan perbandingan 8 banding 4, yang menjadi jumlah penolakan terbanyak dari pejabat komite sejak 1992. Di tengah hasil itu, sebagian pejabat menilai bahasa kebijakan yang masih membuka ruang pemotongan suku bunga sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini.
Perdebatan soal sinyal kebijakan
Gubernur The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, menjadi salah satu suara yang meminta arah kebijakan dibuat lebih fleksibel. Ia menilai FOMC sebaiknya tidak hanya membuka peluang penurunan suku bunga, tetapi juga kemungkinan kenaikan bila perekonomian bergerak ke arah yang berbeda.
“Saya percaya FOMC harus memberikan prospek kebijakan yang memberi sinyal bahwa perubahan suku bunga selanjutnya bisa berupa penurunan atau kenaikan, bergantung pada bagaimana perekonomian berkembang,” kata Kashkari. Ia menambahkan bahwa pendekatan seperti itu dapat membantu memperketat kondisi keuangan saat ini dan mencegah skenario inflasi tinggi yang memerlukan respons lebih keras di kemudian hari.
Kashkari juga menyebut konflik di Timur Tengah sebagai faktor yang dapat mengubah arah ekonomi AS. Menurutnya, jika konflik berlangsung lama, inflasi dan pengangguran berisiko naik, sehingga The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga untuk menjaga ekspektasi inflasi jangka panjang.
Penolakan dari dua pejabat lain
Selain Kashkari, Gubernur The Fed Cleveland Beth Hammack juga menyatakan keberatan, meski ia mendukung keputusan untuk tidak mengubah suku bunga. Hammack menilai bahasa pernyataan resmi masih menunjukkan bias pelonggaran, padahal ekonomi tahun ini tetap tangguh dan harga minyak dunia naik.
“Ketidakpastian seputar prospek ekonomi telah meningkat pada 2026 dan membuat jalur kebijakan moneter di masa depan juga menjadi lebih tidak pasti,” kata Hammack. Ia juga menegaskan bahwa bias pelonggaran yang tercantum dalam pernyataan resmi tidak lagi sejalan dengan kondisi di lapangan.
Lorie Logan, Gubernur The Fed Dallas, turut menyuarakan ketidaksetujuan terhadap bahasa dalam pernyataan FOMC yang merujuk pada waktu penyesuaian tambahan suku bunga. Dengan demikian, ada lebih dari satu pejabat yang menilai sinyal kebijakan The Fed perlu diubah agar lebih sesuai dengan risiko inflasi yang mereka lihat.
Posisi berlawanan dari Stephen Miran
Di sisi lain, Deputi Gubernur Stephen Miran justru mengambil posisi berbeda dari kubu yang ingin mempertahankan sikap lebih hati-hati. Ia mengusulkan penurunan suku bunga sebesar seperempat poin, menandakan bahwa perdebatan di internal The Fed tidak hanya soal kapan menurunkan suku bunga, tetapi juga seberapa cepat pelonggaran harus dimulai.
Perbedaan pandangan ini menunjukkan tekanan yang dihadapi bank sentral saat menimbang inflasi, ketahanan ekonomi, dan risiko yang datang dari konflik geopolitik. Dengan hasil voting yang memunculkan empat penolakan dan perdebatan soal bahasa kebijakan, arah suku bunga The Fed tampak masih akan menjadi salah satu isu utama dalam pertemuan berikutnya.
