
Penurunan tangkapan tuna nasional hingga 20 sampai 30 persen kini menjadi alarm serius bagi industri perikanan Indonesia. Di tengah produksi yang masih berada di atas 700.000 ton per tahun, tekanan pada stok tuna membuat nelayan harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan hasil yang makin menipis.
Indonesia Tuna Consortium menyampaikan kondisi itu di Jakarta dan menilai penyebab utamanya adalah eksploitasi berlebih yang bertemu dengan dampak perubahan iklim global. Situasi ini bukan hanya memukul volume tangkapan, tetapi juga menaikkan biaya operasional nelayan di lapangan.
Stok Tuna Kian Tertekan
Lead Indonesia Tuna Consortium, Thilma Komaling, menyebut penurunan volume tangkapan terjadi di berbagai wilayah operasi dalam beberapa tahun terakhir. Ia juga menegaskan bahwa beberapa stok tuna di kawasan samudra India dan Pasifik sudah berada pada status fully exploited.
Menurut Thilma, kondisi itu menunjukkan tekanan yang besar terhadap keberlanjutan ekosistem laut. Ia bahkan memperingatkan bahwa untuk spesies tertentu, status stok bisa saja sudah melampaui batas yang aman.
Nelayan Kecil Merasakan Dampaknya
Dampak paling langsung terasa pada nelayan kecil yang bergantung pada cakalang, tuna sirip kuning, dan tuna mata besar. Thilma menggambarkan situasi itu dengan menyebut ikan kini semakin jauh, semakin kecil, dan semakin tidak pasti.
Kenaikan suhu laut ikut memperburuk kondisi tersebut. Perubahan suhu 1 sampai 2 derajat Celsius dapat menggeser distribusi tuna ratusan kilometer dari jalur tangkapan tradisional yang biasa diakses nelayan lokal.
Arah Baru: Kejar Nilai, Bukan Sekadar Volume
Di tengah tekanan stok, Thilma mendorong pergeseran strategi bisnis perikanan. Ia menilai industri perlu beralih dari mengejar volume tangkapan ke optimalisasi nilai tambah dari setiap bagian ikan yang berhasil ditangkap.
Pendekatan itu disebut sebagai 100 percent utilization atau pemanfaatan 100 persen. Bagian ikan seperti kulit, tulang, dan sisi dinilai masih memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi belum dimanfaatkan maksimal dalam pola industri konvensional.
Ekspor Masih Tumbuh, Tuna Tetap Penting
Di sisi lain, data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan nilai ekspor perikanan Indonesia masih tumbuh 5,2 persen sepanjang tahun 2025. Amerika Serikat dan Tiongkok tetap menjadi pasar utama bagi produk kelautan Indonesia.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Machmud, menyebut ekspor ke Amerika Serikat naik 4,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Ia juga mencatat pertumbuhan ke ASEAN sebesar 16,7 persen, ke Jepang 2,5 persen, dan ke Uni Eropa 9 persen.
Dalam struktur ekspor perikanan, tuna-cakalang menempati posisi penting dengan nilai ekspor USD 1,04 miliar atau 16,5 persen dari total. Angka itu berada di bawah udang yang mencatat USD 1,87 miliar, sementara komoditas lain seperti cumi-sotong-gurita, rajungan-kepiting, dan rumput laut juga memberi kontribusi besar.
Kondisi ini memperlihatkan paradoks yang semakin jelas di sektor tuna Indonesia. Di satu sisi, pasar ekspor masih kuat, tetapi di sisi lain stok ikan di lapangan terus tertekan dan membutuhkan pengelolaan yang lebih hati-hati agar industri tidak kehilangan daya dukungnya.









