Natindo Cargo menyoroti bahwa impor barang dari China ke Indonesia masih akan menjadi strategi penting bagi pelaku usaha pada 2026. Akses ke pusat manufaktur seperti Guangzhou dan Yiwu dinilai memberi keuntungan karena importir bisa memperoleh produk dengan harga kompetitif dan variasi barang yang luas.
Peluang itu juga didorong oleh kemudahan memilih kategori produk yang terus dibutuhkan pasar. Fesyen, elektronik, peralatan rumah tangga, hingga kebutuhan industri dapat diakses melalui jalur impor yang dikelola secara sistematis.
Alur impor yang makin terstruktur
Proses impor dimulai dari transaksi antara importir dan pemasok di China. Jika importir belum punya kontak langsung, jasa pembelian bisa dipakai untuk menjembatani komunikasi dengan eksportir yang mayoritas menggunakan bahasa Mandarin.
Setelah itu, importir berkoordinasi dengan forwarder seperti Natindo Cargo untuk menentukan jalur pengiriman. Pilihan umumnya terbagi antara laut dan udara, lalu importir akan menerima alamat gudang di China beserta kode marking yang diperlukan.
Barang kemudian dikirim ke gudang konsolidasi di Guangzhou atau Yiwu. Di tahap ini, importir juga perlu menyiapkan dokumen administrasi seperti invoice dan packing list untuk melengkapi proses dokumentasi.
Peran penting custom clearance
Setelah barang dikirim ke Indonesia, forwarder mengurus perizinan dan custom clearance. Tahap ini menjadi bagian paling krusial karena menentukan kelancaran masuknya komoditas ke pasar dalam negeri.
Forwarder berpengalaman biasanya menangani pembayaran bea masuk, PPN impor, dan kelengkapan dokumen sesuai regulasi Bea Cukai. Setelah barang tiba di gudang Jakarta dan biaya pengiriman dilunasi, paket diteruskan ke alamat akhir importir.
Pilihan jalur kirim dan estimasi waktu
Lama pengiriman sangat bergantung pada jalur yang dipilih. Jalur laut direct biasanya memakan waktu sekitar tiga hingga empat minggu karena kapal tidak singgah di pelabuhan transit.
Sementara itu, jalur laut non-direct membutuhkan waktu empat hingga lima minggu karena ada proses transit di pelabuhan perantara. Jalur ini cenderung lebih ekonomis, meski durasinya lebih panjang.
Untuk kebutuhan yang lebih cepat, jalur udara menjadi opsi dengan estimasi sekitar tujuh hingga delapan hari. Namun, seluruh estimasi waktu tetap dipengaruhi antrean pelabuhan, pemeriksaan bea cukai, dan kondisi cuaca.
Preferensi pelanggan dan struktur biaya
Head of Import Natindo Cargo, Samuel Andrew, mengatakan data operasional perusahaan sepanjang 2025 menunjukkan mayoritas pelanggan ritel memilih jalur laut. Ia menyebut sekitar 65 persen pelanggan ritel memilih metode itu karena biaya yang lebih efisien.
Menurut Samuel, jalur udara lebih sering dipakai untuk produk fesyen dan elektronik dengan perputaran cepat. Pola ini menunjukkan bahwa pilihan jalur pengiriman masih sangat dipengaruhi karakter barang dan kebutuhan pasar.
Struktur biaya impor umumnya terdiri dari harga produk, ongkos kirim domestik di China, biaya logistik internasional, dan pajak impor. Pemahaman terhadap komponen ini penting agar importir bisa menghitung margin keuntungan secara akurat.
Layanan logistik modern juga kini dilengkapi fitur live tracking untuk meningkatkan transparansi. Importir dapat memantau pergerakan barang secara real-time dari gudang China hingga pemeriksaan di Indonesia selesai.
Samuel juga menyarankan importir pemula untuk memulai dengan volume kecil terlebih dahulu. Langkah ini berguna untuk menguji kualitas barang dari pemasok dan keandalan pengiriman sebelum meningkatkan skala bisnis.







