Rupiah Tembus Rp 17.394 Meski Neraca Dagang Surplus, Ada Apa Dengan Pasar?

Rupiah kembali tertekan meski kinerja perdagangan Indonesia masih menunjukkan surplus besar. Pada penutupan perdagangan Senin, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,33 persen ke level Rp 17.394 per dollar Amerika Serikat.

Kondisi ini menarik perhatian karena pelemahan mata uang Garuda terjadi bersamaan dengan surplus neraca perdagangan Maret 2026 yang mencapai 3,32 miliar dollar AS. Angka tersebut naik tajam dari surplus Februari yang sebesar 1,27 miliar dollar AS dan memperpanjang tren surplus nasional menjadi 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Surplus perdagangan tetap kuat

Badan Pusat Statistik mencatat surplus itu ditopang oleh ekspor sebesar 22,53 miliar dollar AS. Meski begitu, nilai ekspor tersebut turun 3,10 persen secara tahunan.

Di sisi lain, impor Indonesia tercatat 19,21 miliar dollar AS dan tumbuh 1,51 persen. Selisih keduanya tetap memberi ruang bagi Indonesia untuk mencatat surplus perdagangan yang lebih besar dibanding bulan sebelumnya.

Sektor nonmigas masih menjadi penopang utama dengan surplus 5,21 miliar dollar AS. Komoditas minyak lemak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja termasuk penyumbang penting dalam kelompok ini.

Namun, sektor migas masih mencatat defisit 1,89 miliar dollar AS. Defisit itu mencerminkan ketergantungan pada minyak mentah dan gas yang belum berkurang.

Tekanan belum hilang dari sisi ekonomi domestik

Secara kumulatif, surplus perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Maret 2026 mencapai 5,55 miliar dollar AS. Capaian itu berasal dari surplus nonmigas sebesar 10,63 miliar dollar AS yang tertahan oleh defisit migas sebesar 5,08 miliar dollar AS.

Di saat yang sama, sektor manufaktur domestik justru menunjukkan tanda perlambatan. Purchasing Managers’ Index atau PMI S&P Global berada di level 49,1 pada April 2026, yang menandakan kontraksi pertama setelah delapan bulan ekspansi.

Data itu memberi sinyal bahwa tekanan pada rupiah tidak hanya datang dari pasar global, tetapi juga dari dinamika ekonomi dalam negeri. Ketika aktivitas manufaktur melemah, sentimen terhadap prospek pertumbuhan bisa ikut tertekan.

Faktor global ikut menekan rupiah

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah banyak dipengaruhi ketegangan geopolitik global. Menurut dia, pasar cenderung waspada karena kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah dan memanasnya konflik di Eropa Timur.

Ia menyoroti sikap Amerika Serikat yang menjadikan kesepakatan nuklir dengan Teheran sebagai prioritas. Di sisi lain, Iran disebut mengusulkan agar isu nuklir dikesampingkan sampai perang berakhir dan kedua pihak sepakat mencabut blokade yang saling bertentangan terhadap pelayaran di Teluk.

Ibrahim juga menilai eskalasi di Eropa Timur ikut menambah kekhawatiran pasar. Ukraina disebut melancarkan serangan drone yang menghantam infrastruktur energi Rusia di pelabuhan Primorsk.

Serangan pada hari Minggu itu dilaporkan menimbulkan kerusakan signifikan pada terminal minyak dan sejumlah kapal militer Rusia. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar cenderung mencari aset yang lebih aman, sementara mata uang negara berkembang seperti rupiah berpotensi ikut tertekan.

Berita Terkait

Back to top button