IHSG berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026, dengan peluang menguji level tertinggi sepanjang masa. Dorongan utamanya datang dari gelombang buyback emiten-emiten besar yang nilainya menembus lebih dari Rp12 triliun.
Sentimen ini muncul di tengah optimisme pasar setelah IHSG sebelumnya ditutup menguat 1,04 persen. Investor membaca langkah korporasi tersebut sebagai sinyal bahwa manajemen menilai harga saham masih layak ditopang di tengah fluktuasi indeks global yang sempat tertekan.
Aksi buyback jadi penopang utama
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, sektor pertambangan dan konglomerasi menjadi motor penggerak aksi korporasi kali ini. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menyiapkan dana paling besar, yakni Rp5 triliun, yang akan diputuskan melalui RUPST pada 22 Mei 2026.
Di belakang AADI, PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) masing-masing mengalokasikan Rp2 triliun. Periode buyback ASII dijadwalkan hingga 15 Juni 2026, sedangkan UNTR berlangsung sampai 30 Juni 2026.
Selain dua emiten itu, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) menyiapkan Rp1 triliun dengan periode 7 Maret hingga 7 Juni 2026. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga mengalokasikan Rp1 triliun, dengan pelaksanaan setelah RUPS 8 Juni 2026.
Daftar emiten dan nilai buyback
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menyiapkan buyback senilai Rp905,48 miliar untuk periode 9 Maret 2026 hingga 8 Maret 2027. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menyiapkan Rp500 miliar pada 2 April hingga 2 Juli 2026, sementara PT TOBA Bara Sejahtera Tbk (TOBA) mengalokasikan Rp448,69 miliar untuk periode 17 April 2026 hingga 17 April 2027.
Jika dijumlahkan dari delapan emiten tersebut, total dana buyback mencapai lebih dari Rp12 triliun. Skala ini membuat pelaku pasar menaruh perhatian lebih besar pada saham-saham yang masuk daftar aksi korporasi.
Sinyal valuasi dan stabilitas pasar
Aksi buyback sering dibaca sebagai tanda bahwa emiten melihat sahamnya berada di bawah nilai intrinsik. Pada kondisi seperti ini, pasar juga cenderung menilai saham tersebut masuk kategori undervalued, terutama bila rasio PER dan PBV berada di bawah rata-rata historis lima tahun terakhir.
Penguatan IHSG turut ditopang stabilitas makroekonomi domestik dan ruang yang diberikan kebijakan OJK bagi korporasi untuk melakukan efisiensi modal melalui buyback. Langkah itu membantu menjaga likuiditas pasar, meski investor asing sempat mencatat net sell sebesar Rp1,48 triliun pada periode perdagangan sebelumnya.
Perbankan tetap menarik perhatian
Sektor perbankan masih menjadi sorotan investor institusi, terutama karena saham-sahamnya dinilai memiliki bantalan dari aksi buyback. BBNI menjadi salah satu yang mencuri perhatian karena dana buyback-nya mencapai Rp905,48 miliar dan berlaku hingga tahun depan.
Untuk investor ritel, momentum seperti ini membuat strategi beli bertahap atau averaging up kembali relevan. Analis juga menekankan pentingnya stop loss untuk mengurangi risiko saat volatilitas meningkat.
Fokus pasar pada awal perdagangan
Pelaku pasar kini memantau volume transaksi pada jam pertama perdagangan untuk membaca kekuatan tekanan beli. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, indikator RSI, dan emiten dengan fundamental kuat serta agenda dividen dekat juga menjadi perhatian utama.
Meski indeks Wall Street seperti Dow Jones dan S&P 500 sempat melemah masing-masing 0,52 persen dan 0,28 persen, pasar saham Indonesia masih menunjukkan resiliensi. Optimisme domestik tetap terjaga berkat dukungan aksi korporasi dari emiten unggulan dan pondasi ekonomi nasional yang dinilai kuat.
