WHO Soroti Klaster Hantavirus di Kapal Pesiar, Tiga Tewas dan Risiko Global Masih Rendah

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengeluarkan peringatan terbaru terkait temuan klaster penyakit pernapasan berat akibat Hantavirus di sebuah kapal pesiar berbendera Belanda. Hingga 4 Mei 2026, ada tujuh orang yang jatuh sakit, dengan tiga orang meninggal dunia, satu orang dalam kondisi kritis, dan tiga lainnya mengalami gejala ringan.

Peristiwa ini menyita perhatian karena kapal tersebut membawa 147 penumpang dan kru dari 23 kewarganegaraan. Selain itu, kasusnya muncul saat kapal melintasi rute perjalanan yang mencakup wilayah-wilayah ekologis sensitif seperti Antartika, Georgia Selatan, dan Saint Helena.

Kronologi kasus di atas kapal

Kapal itu berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026. Kasus pertama disebut terjadi pada seorang pria dewasa yang mengalami demam dan sakit kepala pada 6 April, lalu meninggal dunia di atas kapal pada 11 April.

Investigasi lanjutan juga menunjukkan adanya penularan pada kontak erat. Saat ini, kapal tersebut bersandar di lepas pantai Cabo Verde untuk menjalani evaluasi medis lebih lanjut.

Apa itu Hantavirus

Hantavirus merupakan penyakit zoonosis langka namun bisa berakibat fatal dan menyerang sistem pernapasan, dengan kondisi yang dikenal sebagai Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS. WHO menjelaskan bahwa infeksi pada manusia umumnya terjadi melalui paparan terhadap tikus yang terinfeksi.

Penularan bisa terjadi saat seseorang menghirup udara yang tercemar urine, feses, atau air liur tikus. WHO juga menyebut penularan antarmanusia sangat jarang, tetapi dapat terjadi pada spesies tertentu seperti Andes virus melalui kontak dekat dan berkepanjangan.

Gejala yang perlu diwaspadai

Gejala awal Hantavirus biasanya berupa demam, nyeri otot, pusing, dan gangguan pencernaan. Dalam kondisi yang lebih berat, penyakit ini dapat berkembang cepat menjadi pneumonia berat, gagal napas, hingga syok.

Kombinasi gejala awal yang terlihat ringan namun bisa memburuk dalam waktu singkat membuat deteksi dini menjadi sangat penting. Karena itu, pemantauan kondisi kesehatan setelah perjalanan, terutama dari wilayah dengan risiko ekologis tertentu, menjadi langkah yang tidak boleh diabaikan.

Respons WHO dan penilaian risiko

WHO saat ini menilai risiko terhadap populasi global dari peristiwa ini masih rendah. Meski begitu, lembaga tersebut sudah berkoordinasi dengan otoritas kesehatan di Cabo Verde, Belanda, Afrika Selatan, Spanyol, dan Inggris.

Dalam pernyataan resminya, WHO menyebut bekerja sama dengan otoritas negara terkait dan operator kapal agar penumpang serta kru mendapatkan informasi dan dukungan yang diperlukan. Langkah lintas negara ini penting untuk memperkuat penelusuran kasus dan memastikan penanganan berlangsung cepat.

Kasus di kapal pesiar ini juga menunjukkan bahwa penyakit langka tetap bisa muncul di ruang perjalanan internasional yang padat dan mobilitasnya tinggi. Transparansi informasi, deteksi dini, serta kebersihan diri tetap menjadi kunci utama untuk menekan risiko penularan pada situasi seperti ini.

Source: www.medcom.id

Terkait