PT Taspen menerima lebih dari 1.000 laporan dari pensiunan terkait kasus social engineering atau soceng yang menimbulkan kerugian dari Rp10.000 hingga Rp500 juta. Aduan itu masuk sepanjang Januari 2025 hingga Februari 2026 dan menunjukkan para pensiunan masih menjadi sasaran empuk kejahatan digital dengan berbagai pola penipuan yang terus berkembang.
Modus yang dipakai para pelaku juga beragam dan semakin sulit dibedakan dari pesan asli. Bentuknya antara lain file APK palsu seperti undangan pernikahan digital, surat tilang, tautan phishing lewat email atau SMS, hingga arah ke situs web palsu yang dirancang untuk mencuri data dan uang korban.
Kerugian Menyebar dari Nominal Kecil hingga Ratusan Juta
Data pengaduan yang diterima Taspen memperlihatkan bahwa soceng tidak selalu berujung pada kerugian besar, tetapi tetap berbahaya karena memanfaatkan kelengahan korban. Nilai kerugian yang dilaporkan bervariasi sangat lebar, dari Rp10.000 sampai Rp500 juta.
Variasi kerugian itu menunjukkan penipu sering memulai dari akses kecil ke perangkat atau akun korban. Setelah itu, pelaku bisa bergerak lebih jauh untuk mengambil alih rekening, data pribadi, atau jalur komunikasi yang digunakan pensiunan.
Corporate Secretary Taspen Henra menyebut tingginya aduan mendorong perusahaan memperkuat koordinasi dengan aparat penegak hukum. Langkah ini dilakukan bersama Polda Metro Jaya dan Bareskrim Polri untuk menelusuri para pelaku dan jaringan di balik kasus tersebut.
Jaringan Pelaku Mengarah ke Luar Negeri
Henra menjelaskan, aparat telah menangkap sejumlah pelaku yang berasal dari kalangan ibu rumah tangga dan mahasiswa. Namun, penelusuran lanjutan menemukan aliran dana dan jaringan yang lebih besar mengarah ke Kamboja.
Temuan itu membuat penanganan kasus tidak sederhana. Sebagian uang hasil kejahatan diketahui sudah lebih dulu diubah ke aset kripto, sehingga jejaknya makin sulit ditelusuri.
“Ketika sudah dikonversi ke kripto, itu sudah sulit dikejar,” kata Henra di Jakarta, dikutip Jumat (8/5/2026).
Kondisi itu memperlihatkan bagaimana pelaku memanfaatkan teknologi untuk mempersulit pemulihan aset. Di sisi lain, korban sering kali baru menyadari penipuan setelah dana berpindah dan akses akun sudah berubah.
Edukasi Jadi Senjata Utama
Selain penegakan hukum, Taspen juga mengandalkan edukasi untuk menekan jumlah korban baru. Perusahaan memperkuat kampanye kewaspadaan agar peserta, terutama pensiunan, lebih berhati-hati terhadap pesan yang meminta unduhan aplikasi, klik tautan, atau pembaruan data secara tidak resmi.
Henra menyebut laporan terkait social engineering mulai menurun sejak akhir 2025. Penurunan itu terjadi seiring meningkatnya sosialisasi dan edukasi kepada peserta mengenai cara mengenali modus penipuan digital.
Langkah pencegahan ini menjadi penting karena pola soceng kerap memanfaatkan rasa percaya dan kebiasaan korban dalam menerima informasi. Pesan yang tampak resmi bisa saja menjadi pintu masuk bagi pencurian data dan dana.
Audit Keamanan dan Besarnya Tantangan Perlindungan Data
Taspen juga telah menjalani audit keamanan pada aplikasinya oleh Badan Siber dan Sandi Negara. Audit ini dilakukan untuk memastikan perlindungan data dan sistem perusahaan tetap terjaga di tengah meningkatnya ancaman kejahatan digital.
Tantangan Taspen tidak kecil karena jumlah pesertanya mencapai sekitar 9 juta orang. Dari jumlah itu, lebih dari 5 juta merupakan peserta aktif, sehingga pengamanan transaksi dan data harus berjalan dalam skala besar.
Besarnya basis peserta membuat risiko penyalahgunaan informasi juga ikut meningkat. Karena itu, Taspen terus mendorong kewaspadaan peserta saat menerima pesan, tautan, atau file yang mengatasnamakan layanan resmi.
Source: finansial.bisnis.com





