BCA Jaga Likuiditas dan Eksposur Valas, Di Tengah Rupiah yang Tertekan

BCA menegaskan tetap menjaga likuiditas dan risiko secara pruden di tengah gejolak pasar keuangan, termasuk pelemahan rupiah dan volatilitas pasar surat berharga negara atau SBN. Bank pelat merah ini juga memastikan fungsi utamanya sebagai penyalur kredit tetap berjalan, dengan kredit tercatat tumbuh sehat mencapai Rp994 triliun per Maret 2026.

Di tengah tekanan pasar, BCA menempatkan cadangan likuiditas sementara pada instrumen SBN dan pasar uang yang memiliki tingkat likuiditas baik. Perseroan juga menjaga portofolio surat berharga tidak hanya dari sisi pergerakan yield, tetapi juga durasi agar kualitas likuiditas tetap terjaga secara keseluruhan.

Strategi likuiditas dijaga dengan hati-hati

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan pengelolaan dana dilakukan dengan mempertimbangkan fleksibilitas di tengah fluktuasi pasar obligasi dan nilai tukar. “Cadangan likuiditas sementara ditempatkan pada instrumen SBN dan pasar uang yang memiliki tingkat likuiditas yang baik,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Sabtu (9/5/2026).

BCA menilai pendekatan itu penting agar neraca tetap sehat saat pasar bergerak liar. Perseroan juga menekankan bahwa pengelolaan aset dan liabilitas dilakukan secara seimbang, baik untuk rupiah maupun eksposur mata uang asing.

Eksposur valas dijaga tetap rendah

Selain likuiditas, BCA memastikan risiko mata uang asing tetap terkendali dengan menjaga net open position atau eksposur devisa neto pada level rendah. Langkah ini penting karena tekanan pada rupiah dapat cepat merembet ke aset keuangan lain dan memengaruhi persepsi risiko investor.

Hera menegaskan bahwa BCA terus memastikan neraca dikelola secara pruden, terutama pada aspek asset-liability yang seimbang. Pendekatan ini membuat bank tetap memiliki ruang gerak di tengah gejolak pasar tanpa membuka risiko valas yang berlebihan.

Tekanan rupiah ikut menguji pasar SBN

Pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp17.000 per dolar AS ikut menekan pasar SBN dan menguji ketahanan perbankan nasional. Data terbaru menunjukkan rupiah sempat menyentuh Rp17.445 per dolar AS dan bergerak di kisaran Rp17.300–Rp17.400 sepanjang pekan ini.

Tekanan tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya volatilitas di pasar SBN, yang ditandai kenaikan yield dan penurunan harga di pasar sekunder. Pergerakan ini tidak hanya dipicu faktor domestik, tetapi juga arus modal global, arah suku bunga internasional, dan persepsi risiko investor terhadap aset rupiah.

Peran bank besar makin penting di tengah arus keluar dana

Peneliti Center of Reform on Economics atau CORE Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa hubungan rupiah dan SBN terlihat jelas dari perilaku investor asing. Saat rupiah melemah, investor asing yang memegang obligasi pemerintah akan mengalami penurunan return dalam dolar, sehingga aset rupiah menjadi kurang menarik dibanding US Treasury.

Ia mencontohkan yield SBN 10 tahun memang masih berada di kisaran 6,7%, tetapi pelemahan rupiah dapat memangkas daya tarik imbal hasil itu. Dalam kondisi seperti itu, arus keluar dana asing dari pasar SBN bisa kembali menekan rupiah dan membentuk siklus yang saling memperkuat.

Yusuf juga menilai perbankan nasional kini berperan sebagai penyangga utama pasar SBN. Sejak SRBI diperluas dan pemerintah menempatkan dana di perbankan untuk menyerap obligasi, bank-bank domestik terdorong menjadi anchor investor di pasar surat utang.

Likuiditas masih longgar, tetapi ada risiko jangka menengah

Di tengah kondisi tersebut, likuiditas perbankan nasional masih relatif longgar dan pertumbuhan kredit belum terlalu agresif. Sebagian dana yang belum terserap ke kredit akhirnya dialihkan ke SBN dan instrumen moneter untuk menjaga penempatan dana tetap produktif.

Namun, porsi dana yang makin besar ke SBN juga membawa konsekuensi tersendiri. Semakin besar alokasi itu, semakin besar potensi crowding out terhadap kredit sektor riil dalam jangka menengah, meski risikonya belum terasa saat ini karena permintaan kredit masih lemah.

Kondisi ini membuat langkah bank besar seperti BCA menjadi penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Di tengah pasar yang sensitif terhadap rupiah, yield, dan arus modal global, fokus pada likuiditas, durasi portofolio, serta eksposur valas menjadi kunci agar fungsi intermediasi tetap berjalan tanpa menambah tekanan baru.

Source: finansial.bisnis.com
Exit mobile version