Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat dan ditutup melemah di level Rp 17.528 per dolar AS. Pada perdagangan sore, pelemahan rupiah tercatat sebesar 53 poin, setelah sempat bergerak menguat hingga menyentuh Rp 17.475 per dolar AS.
Pada pembukaan perdagangan pagi, rupiah juga sudah berada dalam tekanan dengan melemah 13 poin atau 0,07% ke posisi Rp 17.515 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan pasar masih bergerak hati-hati di tengah kombinasi sentimen global yang belum stabil.
Tekanan dari ketidakpastian geopolitik
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu kondisi pasar yang masih rapuh setelah Presiden AS Donald Trump menyebut negosiasi dengan Iran berada dalam kondisi kritis. Pernyataan itu membuat optimisme pelaku pasar terhadap peluang tercapainya gencatan senjata dalam waktu dekat ikut berkurang.
Situasi tersebut menjaga tingkat ketidakpastian geopolitik global tetap tinggi dan ikut menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah. Selain itu, gangguan distribusi pengiriman melalui Selat Hormuz yang masih berlangsung juga menambah kekhawatiran pasar.
Pasar menanti agenda penting internasional
Di sisi lain, investor juga mencermati rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada 14-15 Mei 2026 di Beijing. Agenda itu diperkirakan akan membahas ketegangan perdagangan, konflik Iran, Taiwan, hingga rantai pasokan global.
Pasar menilai pertemuan tersebut penting karena hasil pembicaraan dua pemimpin ekonomi besar dunia dapat memengaruhi arah sentimen risiko global. Ketika investor memilih bersikap wait and see, tekanan pada aset berisiko seperti rupiah cenderung bertambah.
Fokus pasar bergeser ke data inflasi AS
Selain isu geopolitik dan perdagangan, pelaku pasar juga menunggu rilis data indeks harga produsen AS. Data ini dinilai penting untuk membaca tekanan inflasi terbaru sekaligus memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Ibrahim menyebut pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga AS tahun ini. Perubahan pandangan itu biasanya membuat dolar AS tetap kuat dan menambah tekanan pada rupiah di pasar валютa.
Untuk perdagangan sepekan ke depan, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 17.420 hingga Rp 17.650 per dolar AS. Dengan kondisi sentimen global yang masih sensitif, pergerakan rupiah berpeluang tetap fluktuatif mengikuti perkembangan geopolitik, data ekonomi AS, dan respons pelaku pasar internasional.
Source: www.beritasatu.com