
Pelemahan rupiah kembali menekan industri tahu dan tempe nasional, kali ini lewat jalur paling sensitif: bahan baku kedelai yang masih sangat bergantung pada impor. Saat kurs menyentuh Rp 17.601 per dollar AS pada Jumat (15/5/2026) siang, pelaku usaha di pasar domestik mulai menghitung ulang biaya produksi yang berpotensi naik lebih cepat dari kemampuan mereka menyesuaikan harga jual.
Situasi ini menjadi lebih berat karena kedelai menyumbang 60 hingga 70 persen dari total komponen biaya produksi tahu dan tempe. Dengan struktur biaya seperti itu, setiap pelemahan rupiah langsung terasa di dapur produksi, terutama ketika pasokan dalam negeri belum mampu menutup kebutuhan nasional.
Ketergantungan Impor Masih Sangat Tinggi
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, menyebut konsumsi kedelai nasional berada di kisaran 2,6 juta hingga 2,7 juta ton per tahun. Sementara itu, kapasitas produksi lokal hanya sekitar 200.000 sampai 300.000 ton.
“Artinya lebih dari 85 persen dipenuhi impor. Dengan struktur seperti ini, setiap depresiasi rupiah misalnya bergerak di kisaran Rp 17.000 per dollar AS langsung meningkatkan biaya bahan baku di dalam negeri tanpa ada buffer produksi domestik,” kata Rizal. Ketergantungan terbesar masih datang dari kedelai asal Amerika Serikat.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan impor kedelai pada 2025 mencapai 2,56 juta ton, dengan 90 persen di antaranya berasal dari Amerika Serikat. Pada saat yang sama, produksi lokal diprediksi terus turun hingga 320.000 ton pada 2026 karena banyak petani beralih menanam padi atau jagung.
Biaya Produksi Ikut Tertekan dari Banyak Sisi
Tekanan harga tidak hanya datang dari kedelai. Rizal juga menyoroti kenaikan harga plastik kemasan yang terdorong oleh naiknya harga minyak mentah global.
“Plastik berbasis resin yang diturunkan dari minyak mengalami kenaikan harga seiring Indonesian Crude Price (ICP) yang sudah menembus di atas 100 dollar AS per barrel,” ujarnya. Kondisi ini membuat beban produksi perajin makin berat karena kemasan menjadi bagian biaya yang tidak bisa diabaikan.
Di lapangan, dampaknya sudah dirasakan langsung oleh pengrajin. Hadi Prayitno, perajin di Ponorogo, mengaku terpaksa mengubah dimensi produknya akibat harga bahan baku yang tidak stabil selama satu bulan terakhir.
“Ini berdampak langsung ke biaya kemasan tempe, yang selama ini sering dianggap komponen kecil tetapi dalam agregat cukup signifikan bagi UMKM,” kata Hadi. Sejumlah perajin kini masih memantau harga distributor untuk menentukan apakah perlu menaikkan harga jual atau justru mengecilkan ukuran produk.
Pasokan Dipandang Kunci Menahan Gejolak
Di tengah tekanan harga, Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) mendorong penguatan kerja sama dagang dengan Amerika Serikat melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART). Kesepakatan itu mencakup komitmen pasokan kedelai 3,5 juta ton per tahun untuk lima tahun ke depan.
Hidayatullah Suralaga, Ketua Akindo, menyebut komitmen pembelian itu penting untuk menjaga kepastian pasokan dan kelancaran distribusi nasional. Menurut dia, jaminan stok dapat memberi ruang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing.
“Komitmen ini dapat memperkuat ekosistem industri kedelai nasional. Dengan pasokan yang lebih terjamin, pelaku usaha memiliki kepastian untuk berinvestasi, meningkatkan kapasitas produksi, dan menciptakan lapangan pekerjaan,” kata Hidayatullah. Di tengah rupiah yang melemah, kepastian pasokan menjadi penahan utama agar tekanan harga tidak langsung berubah menjadi lonjakan tajam di pasar tahu dan tempe.









