
Rupiah masih berada dalam tekanan meski Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan sudah menyepakati dua langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Pengamat menilai kebijakan itu punya sisi positif, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah secara berkelanjutan.
Ariston Tjendra melihat koordinasi fiskal dan moneter tetap penting karena bisa memberi sinyal yang lebih meyakinkan kepada investor dan pasar keuangan. Menurut dia, langkah bersama itu berpotensi melahirkan kebijakan yang lebih komprehensif bagi perekonomian nasional.
Dua jurus BI-Kemenkeu yang dinilai belum cukup
Langkah pertama yang disepakati adalah meningkatkan daya tarik imbal hasil agar arus dana asing kembali masuk ke pasar keuangan domestik. Langkah kedua adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar keuangan dan perbankan supaya stabilitas sistem tetap terjaga.
Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF, M Rizal Taufikurahman, menilai dua kebijakan itu memang bisa meredam tekanan terhadap rupiah. Namun, ia menegaskan efeknya belum tentu langsung terlihat dalam bentuk penguatan nilai tukar.
Menurut Rizal, peningkatan imbal hasil dapat membantu menarik kembali modal asing ke pasar domestik. Di sisi lain, kecukupan likuiditas berfungsi menjaga kestabilan pasar dan perbankan agar tidak semakin tertekan.
Tekanan global masih jadi penghambat utama
Masalahnya, rupiah masih dibayangi faktor eksternal yang berat. Ariston menyebut pelemahan rupiah hingga menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat juga dipengaruhi tensi global, termasuk ketegangan perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Ia juga menyoroti penguatan dolar AS yang ditopang data ekonomi Amerika Serikat yang masih solid. Dalam kondisi ini, kenaikan harga minyak mentah ikut menambah tekanan pada rupiah dan membuat pemulihan nilai tukar berjalan lambat.
Ariston menilai isu perdamaian AS-Iran yang belum jelas perlu segera menemukan jalan keluar. Jika ketegangan mereda, dolar AS bisa melemah dan pasar berisiko berpeluang kembali masuk ke aset-aset termasuk Indonesia.
Stabilisasi, bukan pemicu penguatan cepat
Rizal menegaskan bahwa selama suku bunga global masih tinggi, dolar AS masih perkasa, dan ketidakpastian geopolitik belum mereda, rupiah akan tetap berada di bawah tekanan. Dalam situasi seperti itu, kebijakan BI dan Kemenkeu lebih berperan sebagai penahan gejolak daripada pendorong apresiasi yang kuat.
Pandangan tersebut membuat arah kebijakan fiskal dan moneter tetap penting untuk menjaga kepercayaan pasar. Namun, penguatan rupiah secara konsisten masih bergantung pada membaiknya kondisi eksternal yang saat ini belum menunjukkan tanda mereda.
Source: www.suara.com








