Rupiah Di Ujung Rp 18.000, Harga Minyak Dunia Menjadi Pemicu Utama

Rupiah kembali berada di bawah tekanan berat di tengah lonjakan harga minyak dunia, penguatan dolar AS, dan memanasnya konflik geopolitik internasional. Dalam kondisi seperti ini, sejumlah analis menilai rupiah masih berisiko melemah lebih jauh dan membuka peluang mengarah ke level psikologis Rp 18.000 per dolar AS jika tekanan eksternal belum mereda.

Pada perdagangan Jumat (15/5/2026), rupiah sempat menyentuh Rp 17.613 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg. Meski kemudian bergerak ke kisaran Rp 17.597 per dolar AS pada siang hari, posisi itu tetap menunjukkan rapuhnya sentimen pasar terhadap mata uang domestik.

Tekanan datang dari luar negeri

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah saat ini terutama dipicu faktor eksternal. Dua pemicu utama yang paling menonjol adalah penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah dunia.

“Hari ini pun juga dolar menguat cukup tajam, kemudian harga minyak pun juga naik dan berdampak terhadap kelemahan mata uang rupiah,” kata Ibrahim kepada Beritasatu.com.

Dorongan harga minyak datang dari ketegangan di Timur Tengah, terutama setelah Iran menggelar latihan perang besar-besaran di kawasan Selat Hormuz. Jalur ini penting karena menjadi rute utama pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.

Gangguan di area tersebut langsung memicu kekhawatiran soal pasokan energi dunia. Situasi itu diperburuk oleh laporan penyitaan kapal dan gangguan pelayaran di sekitar wilayah tersebut, sementara lalu lintas kapal di Selat Hormuz disebut belum kembali normal.

Minyak dunia naik, rupiah ikut tertekan

Harga minyak mentah Brent tercatat naik hingga di atas US$ 107 per barel. Kenaikan ini menambah tekanan bagi negara importir energi seperti Indonesia karena kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor ikut meningkat.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak bukan hanya soal biaya impor. Kenaikan itu juga berdampak pada beban subsidi energi yang semakin besar dan ikut menekan ruang gerak fiskal pemerintah.

“Permasalahan anggaran yang cukup besar untuk melakukan subsidi terhadap minyak mentah ini salah satu penyebab pelemahan mata uang rupiah,” ujar Ibrahim.

Ia juga menjelaskan bahwa sekitar 85% dari impor minyak mentah Indonesia digunakan untuk memenuhi kebutuhan BBM bersubsidi. Dari sekitar 1,5 juta barel minyak mentah yang diimpor, porsi besar itu membuat sensitivitas rupiah terhadap harga minyak dunia semakin tinggi.

Kebijakan The Fed ikut menambah tekanan

Selain konflik geopolitik dan harga minyak, arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi faktor penting yang menekan rupiah. Inflasi AS yang masih tinggi membuat pasar memperkirakan bank sentral AS atau The Federal Reserve belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.

Kondisi itu membuat dolar AS terus menguat terhadap mayoritas mata uang dunia. Dalam situasi seperti ini, investor global cenderung memilih aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman dan menarik dari sisi imbal hasil.

“Ada kemungkinan besar di tahun 2026 Bank Sentral Amerika tidak akan menurunkan suku bunga,” kata Ibrahim.

Penguatan dolar AS juga membuat arus modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi lebih rentan bergerak keluar. Tekanan ini menambah berat beban rupiah yang sudah lebih dulu tertimpa sentimen negatif dari pasar energi.

Bank Indonesia masih punya ruang merespons

Di tengah gejolak tersebut, Bank Indonesia disebut terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah. Ibrahim menyebut pergerakan rupiah sempat membaik setelah berada di atas Rp 17.600.

“Bank Indonesia terus melakukan intervensi ya kita lihat bahwa tadi pagi di Rp 17.600-an lebih, kemudian sekarang sudah kembali di bawah Rp 17.600,” ungkapnya.

Selain intervensi, ruang penyesuaian suku bunga juga dinilai masih terbuka. Ibrahim memperkirakan Bank Indonesia dapat mengambil langkah 25 basis point hingga 50 basis point bila dibutuhkan untuk menjaga daya tarik aset rupiah.

“Bisa saja 25 basis point sampai 50 basis point. Tujuannya adalah untuk menstabilkan mata uang rupiah,” ujarnya.

Risiko inflasi dan sentimen pasar masih membayangi

Analis pasar uang Ariston Tjendra menilai tekanan pada rupiah masih sangat dipengaruhi faktor luar, terutama konflik Timur Tengah yang belum mereda. Menurut dia, harga minyak mentah dunia yang tetap tinggi di kisaran US$ 100 per barel turut menahan ruang penguatan rupiah.

“Kondisi saat ini yang paling mempengaruhi masih faktor luar, terutama situasi konflik Timur Tengah yang belum mereda sehingga harga minyak mentah dunia masih tinggi di kisaran US$ 100 per barel,” kata Ariston.

Kenaikan harga energi global juga berpotensi menambah tekanan inflasi di dalam negeri. Ketika biaya energi naik, dampaknya biasanya merambat ke biaya distribusi dan harga barang secara lebih luas.

Meski begitu, para analis menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup terjaga. Ibrahim menyebut dominasi investor domestik di pasar obligasi menjadi salah satu penyangga penting saat pasar keuangan domestik terguncang.

“Walaupun rupiah terus mengalami pelemahan tetapi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup bagus karena 90% obligasi yang membeli adalah domestik,” kata Ibrahim.

Pasar kini menunggu arah perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, dan sinyal kebijakan The Fed. Selama tiga faktor itu belum menunjukkan perbaikan, rupiah masih berhadapan dengan risiko tekanan lanjutan yang bisa membawa kurs semakin dekat ke Rp 18.000 per dolar AS.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button