IHSG kembali tertekan tajam dan menutup perdagangan di level 6.599,240 pada Senin (18/5/2026). Koreksi 124,079 poin atau 1,85 persen ini dibaca sebagai sinyal bahwa kepercayaan pasar sedang berada dalam fase rapuh.
Tekanan tidak datang dari satu sumber saja. Aksi jual bersih investor asing yang menembus lebih dari Rp 51 triliun sejak awal tahun, pelemahan rupiah ke atas Rp 17.600 per dollar AS, dan lonjakan risiko makroekonomi membuat sentimen pasar makin berat.
Krisis kepercayaan mulai terasa
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai kondisi ini merupakan kombinasi tekanan eksternal dan persoalan domestik. Menurut dia, investor kini makin berhati-hati menempatkan dana di pasar modal Indonesia.
Dari luar negeri, pasar dibayangi konflik Iran-AS, kenaikan harga minyak, penguatan dollar AS, dan naiknya yield obligasi AS tenor 10 tahun ke 4,6 persen. Kombinasi itu mendorong arus dana kembali ke aset aman atau safe haven.
Tekanan dari dalam negeri
Di sisi domestik, pasar ikut terbebani oleh penurunan kualitas likuiditas, aksi jual saham konglomerasi, dan ketidakpastian arah kebijakan ekonomi fiskal. Situasi ini membuat pelaku pasar menahan diri dan memilih mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Hendra menilai kondisi tersebut membuat investor semakin berhati-hati. Ia menyebut persoalan domestik ikut memperparah tekanan yang sudah datang dari faktor global.
Belum ada sinyal pembalikan kuat
Secara teknikal, IHSG memang sudah masuk area jenuh jual atau oversold. Namun, sinyal pembalikan arah yang kuat belum terbentuk, sehingga pasar masih rentan terhadap volatilitas lanjutan.
Hendra mengatakan rebound jangka pendek tetap mungkin terjadi karena penurunan indeks sudah cukup dalam dan valuasi mulai murah. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa selama faktor utama tekanan belum selesai, rebound semacam itu rawan berubah menjadi dead cat bounce.
Ia juga membuka kemungkinan koreksi lanjutan menuju rentang 6.400 hingga 6.500. Risiko itu masih terbuka selama IHSG belum mampu kembali dan bertahan di atas area psikologis 6.800-6.900.
Peluang masih ada di saham tertentu
Di tengah tekanan yang luas, valuasi saham berkapitalisasi besar mulai turun di bawah rata-rata historis. Kondisi ini membuat sebagian saham big caps terlihat menarik bagi investor jangka panjang, terutama karena imbal hasil dividen dinilai bisa melampaui deposito maupun obligasi.
Namun, Hendra menekankan bahwa investor tidak cukup hanya mencari saham yang sudah jatuh paling dalam. Fokus utama tetap pada emiten dengan fundamental kuat, cash flow sehat, dan kemampuan bertahan menghadapi tekanan ekonomi global.
Sektor defensif masih bertahan
Di tengah tekanan indeks, sektor energi berbasis batu bara dan minyak masih mendapat dukungan dari lonjakan harga komoditas global. Beberapa saham yang dinilai relatif kuat antara lain PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
Selain itu, sektor consumer defensive dan kesehatan juga dinilai lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi. Konsumsi masyarakat yang tetap berjalan membuat dua sektor ini masih menyimpan peluang saat pasar bergerak defensif.
Sebaliknya, saham properti, bahan baku, konglomerasi, serta emiten dengan beban utang dollar AS yang besar diperkirakan masih menghadapi tekanan berat. Sektor-sektor itu sangat sensitif terhadap suku bunga tinggi dan pelemahan rupiah, sehingga ruang pemulihannya cenderung lebih sempit dalam jangka pendek.
Di tengah kondisi seperti ini, pasar menunggu langkah pemerintah bersama OJK, BEI, dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas kurs rupiah sekaligus memulihkan kepercayaan investor terhadap transparansi pasar modal. Tanpa perbaikan sentimen dan kepastian kebijakan, IHSG berpeluang terus bergerak dalam tekanan yang tinggi.
