
Tingginya penggunaan pinjaman online dan layanan buy now pay later di kalangan generasi muda kini menjadi perhatian serius. Di tengah akses yang makin mudah, pola konsumsi digital dinilai belum selalu diimbangi kesiapan mengelola keuangan jangka panjang.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan 48,65 persen kredit macet pinjaman online per Maret 2026 berasal dari kelompok usia 19 sampai 34 tahun. Dalam periode yang sama, outstanding pinjol nasional mencapai Rp 101,03 triliun atau tumbuh 26,25 persen secara tahunan.
Tekanan di balik kemudahan kredit digital
Total utang BNPL juga tercatat Rp 28,3 triliun dengan 30,81 juta pengguna. Di sisi lain, rasio kredit bermasalah pinjol atau TWP90 berada di level 4,52 persen per Maret 2026.
Angka-angka itu menggambarkan bahwa pengelolaan keuangan dan penggunaan utang konsumtif masih menjadi tantangan besar. Kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa kemudahan layanan keuangan digital belum otomatis membuat pengguna lebih disiplin.
Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian menilai tingginya penggunaan pinjol dan paylater di kalangan anak muda menunjukkan ketimpangan antara pola konsumsi digital dan kesiapan membangun kondisi finansial jangka panjang. Ia menyebut banyak generasi muda sangat dekat dengan teknologi keuangan, tetapi belum konsisten dalam mengelola uang.
“Generasi muda saat ini sangat dekat dengan teknologi dan layanan keuangan digital. Namun di saat yang sama, banyak yang belum memiliki kebiasaan mengelola keuangan secara konsisten,” ujar Aloysia dalam keterangan resmi, Selasa (19/5/2026).
Menurut dia, membangun keuangan sehat tidak harus dimulai dari jumlah besar. Ia mencontohkan langkah sederhana seperti menyisihkan setidaknya 5 persen dana dingin dari penghasilan untuk investasi rutin agar disiplin finansial tumbuh dalam jangka panjang.
Kebiasaan finansial jadi kunci
Indodax mendorong generasi muda membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat melalui strategi investasi rutin seperti Dollar-Cost Averaging atau DCA. Metode ini dilakukan dengan investasi berkala memakai nominal tetap secara konsisten untuk membangun aset jangka panjang.
Perusahaan menilai pinjaman online dan BNPL pada dasarnya merupakan instrumen keuangan yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Namun, penggunaan keduanya tetap perlu diimbangi pengelolaan keuangan yang disiplin karena gaya hidup serba instan berisiko mendorong keputusan konsumsi yang kurang terukur.
Aloysia juga mengingatkan bahwa riwayat pinjaman dan kedisiplinan pembayaran menjadi bagian penting dari rekam jejak finansial seseorang. Catatan itu dapat memengaruhi akses keuangan di masa depan, termasuk pengajuan kredit pemilikan rumah, kredit kendaraan, hingga pembiayaan usaha.
“Banyak generasi muda belum menyadari bahwa riwayat finansial hari ini dapat berdampak pada akses keuangan mereka di masa depan,” kata Aloysia. “Karena itu, penting untuk mulai membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat, tidak hanya dalam mengelola konsumsi, tetapi juga dalam berinvestasi dan membangun aset secara konsisten.”
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Indodax menyediakan fitur Investasi Rutin yang memungkinkan pengguna melakukan investasi otomatis secara terjadwal. Perusahaan juga menyatakan terus memperkuat edukasi bagi pengguna pemula melalui berbagai kanal agar masyarakat memahami risiko, prinsip dasar investasi, dan pentingnya membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat di era digital.
Sebagai platform perdagangan aset kripto yang telah beroperasi lebih dari 12 tahun di Indonesia, Indodax menyatakan terus mendukung peningkatan literasi finansial masyarakat. Upaya itu dilakukan melalui edukasi, pengembangan fitur investasi, serta penguatan keamanan platform sesuai regulasi yang berlaku.









