Pandangan bahwa gelar sarjana otomatis menjadi tiket menuju pekerjaan bergaji tinggi kini mulai bergeser. Di tengah percepatan teknologi dan kebutuhan industri AI, sejumlah profesi berbasis keterampilan teknis justru mencatat lonjakan permintaan dan penghasilan yang makin kompetitif.
Perubahan itu terlihat jelas pada pekerjaan seperti mekanik, teknisi robotik, teknisi HVAC atau pendingin ruangan, hingga teknisi otomasi industri. Data perusahaan rekrutmen global Randstad menunjukkan, di beberapa negara maju, pekerja skilled trade kini bisa memperoleh penghasilan yang mendekati bahkan menyaingi karyawan kantoran.
Skilled trade makin dilirik perusahaan
CEO Randstad, Sander van’t Noordende, menilai pola karier konvensional sedang berubah. Ia mengatakan jalur kuliah lalu masuk kantor demi karier yang menguntungkan sudah tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan yang kuat.
Menurut Noordende, bidang teknologi dan keterampilan teknis tetap menawarkan prospek besar. Ia menegaskan bahwa pekerjaan skilled trade berkembang sangat cepat dan bisa memberi penghasilan yang baik bagi pekerja yang memiliki keahlian relevan.
Kenaikan gaji terjadi di banyak negara
Data Randstad memperlihatkan rata-rata gaji pekerja skilled trade di Amerika Serikat naik hingga 30 persen sejak 2022. Kenaikan juga tercatat di Belanda sebesar 21 persen, Jerman 18 persen, dan Inggris 9 persen.
Di Belanda, mekanik bisa menerima rata-rata US$79 ribu atau sekitar Rp1,38 miliar per tahun. Di Jerman, pendapatan mekanik mencapai US$76.600 atau setara Rp1,34 miliar per tahun.
Di Inggris, pekerja di sektor konstruksi dan perumahan juga mencatat penghasilan rata-rata lebih dari US$78.500 atau sekitar Rp1,37 miliar per tahun. Angka itu menunjukkan bahwa keterampilan teknis kini tidak lagi berada di bawah profesi kantoran dari sisi imbal hasil.
Permintaan tenaga teknis terdorong industri AI
Lonjakan kebutuhan pekerja teknis tidak lepas dari pembangunan pusat data yang menopang pertumbuhan AI global. Fasilitas seperti data center memerlukan banyak tenaga kerja fisik, mulai dari teknisi listrik, pendingin ruangan, otomasi industri, hingga robotika.
Noordende menilai perdebatan soal AI sering terlalu fokus pada kemungkinan penggantian pekerjaan kantoran. Ia mengingatkan bahwa AI tetap membutuhkan infrastruktur fisik yang tidak bisa dibangun sendiri oleh mesin.
Pernyataan itu sejalan dengan belanja modal besar perusahaan teknologi seperti Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon. Keempatnya disebut menyiapkan gabungan dana hampir US$700 miliar atau sekitar Rp12.250 triliun tahun ini untuk memperluas data center.
Lowongan teknis melonjak tajam
Analisis Randstad terhadap 50 juta lowongan pekerjaan menunjukkan permintaan teknisi robotika naik 107 persen sejak 2022. Di saat yang sama, lowongan teknisi HVAC tumbuh 67 persen dan teknisi otomasi industri meningkat 51 persen.
Kenaikan ini memperkuat posisi profesi teknis sebagai jalur karier yang semakin strategis. Banyak perusahaan kini membutuhkan pekerja yang mampu menjaga operasional infrastruktur digital dan fisik agar tetap berjalan stabil.
AI juga bisa menaikkan gaji pekerja pemula
Di sisi lain, kemampuan AI mulai memberi nilai tambah bagi lulusan baru maupun pekerja entry-level. Randstad mencatat, pekerja pemula yang memiliki keterampilan AI bisa menerima gaji hingga 25 persen lebih tinggi.
Noordende menyebut AI dapat menjadi jalur cepat menuju promosi dan kenaikan gaji, asalkan dikombinasikan dengan soft skill seperti penilaian, kolaborasi, dan empati. Dalam pandangannya, teknologi memang penting, tetapi kemampuan sosial tetap menentukan laju karier.
Pada bidang pengembangan software di Amerika Serikat, gaji awal pekerja bisa naik dari US$85 ribu atau sekitar Rp1,48 miliar menjadi US$105 ribu atau setara Rp1,83 miliar jika memiliki kemampuan AI tambahan.
Perusahaan kini mencari keterampilan yang lebih lengkap
Meski AI membuka peluang baru, teknologi itu juga mulai menekan sejumlah pekerjaan level pemula. Data perusahaan konsultan Challenger Gray & Christmas menyebut hampir 50 ribu PHK di Amerika Serikat tahun ini berkaitan dengan penggunaan AI.
Namun, di tengah perubahan itu, perusahaan justru semakin mencari kandidat dengan kemampuan interpersonal yang kuat. Permintaan terhadap emotional intelligence naik 173 persen, sedangkan kreativitas meningkat 168 persen.
Randstad menilai kemampuan teknis memang bisa dipelajari lebih cepat, tetapi komunikasi, empati, dan kemampuan membangun relasi tetap sulit digantikan teknologi. Kombinasi antara keterampilan lapangan, pemahaman digital, dan kecakapan sosial kini menjadi modal yang paling dicari di pasar kerja modern.
Source: www.viva.co.id