Badan Pangan Nasional memastikan harga pangan nasional tetap terkendali setelah Iduladha 1447 Hijriah. Pemerintah menilai stabilitas itu terjaga berkat intervensi yang diperkuat sebelum dan sesudah perayaan, sekaligus dukungan pasokan yang masih relatif aman di tengah ketidakpastian global.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas Maino Dwi Hartono menyebut kondisi neraca pangan nasional masih cukup kuat meski dinamika geopolitik dunia terus berpotensi mengganggu rantai pasok. Ia menegaskan pengendalian harga tidak hanya bergantung pada situasi pasar, tetapi juga pada langkah cepat pemerintah menjaga distribusi dan ketersediaan barang.
Harga sejumlah komoditas masih terjaga
Pemantauan Bapanas per 29 Mei 2026 atau dua hari setelah Iduladha menunjukkan beberapa komoditas strategis masih berada dalam rentang harga acuan. Harga beras medium nasional tercatat Rp 13.456 per kilogram, turun tipis 0,19% dibandingkan sepekan sebelumnya.
Daging ayam ras berada di level Rp 38.385 per kilogram dan telur ayam ras Rp 29.469 per kilogram. Kedua komoditas itu masih berada di bawah batas harga acuan penjualan tingkat konsumen.
Meski begitu, sejumlah komoditas hortikultura masih bergerak di atas acuan. Bawang merah tercatat Rp 47.185 per kilogram, lebih tinggi dari HAP tertinggi Rp 41.500 per kilogram, sedangkan cabai merah keriting berada di level Rp 60.638 per kilogram, melewati HAP maksimal Rp 55.000 per kilogram.
Distribusi masih jadi tantangan utama
Maino menilai tantangan terbesar dalam menjaga stabilitas harga tetap berada pada sisi distribusi. Sentra produksi pangan belum merata di semua wilayah, sementara waktu panen juga berbeda-beda antar daerah.
Kondisi itu membuat pengawasan harga tidak bisa hanya bertumpu pada angka nasional, karena tekanan di tingkat daerah bisa muncul akibat keterbatasan pasokan lokal. Karena itu, pemerintah terus menyesuaikan intervensi agar harga tetap terkendali di berbagai wilayah.
Intervensi pemerintah diperkuat
Menjelang hingga setelah Iduladha, pemerintah mempercepat berbagai program stabilisasi untuk menjaga keterjangkauan pangan. Salah satunya melalui penyerapan gabah dan beras petani dengan harga Rp 6.500 per kilogram di tingkat produsen.
Di saat yang sama, pemerintah juga menyalurkan beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP kepada masyarakat. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, realisasi penyaluran beras SPHP telah mencapai sekitar 507.000 ton.
Dari jumlah itu, 221.000 ton disalurkan pada Januari-Februari sebagai perpanjangan program tahun sebelumnya, lalu 286.000 ton disalurkan selama Maret hingga Mei 2026. Pemerintah juga menjalankan SPHP jagung untuk membantu peternak menghadapi tingginya harga pakan ternak.
Bantuan pangan dan Gerakan Pangan Murah terus berjalan
Selain operasi pasar melalui SPHP, pemerintah menyalurkan bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng. Hingga akhir Mei 2026, Perum Bulog telah menyalurkan bantuan kepada 15,4 juta keluarga penerima manfaat dari target nasional 33,2 juta KPM.
Pemerintah juga menggencarkan Gerakan Pangan Murah sebagai upaya menjaga harga tetap terjangkau di masyarakat. Hingga akhir Mei 2026, kegiatan itu sudah dilakukan 5.037 kali di 417 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.
Jumlah tersebut jauh melampaui capaian pada periode yang sama tahun lalu, yang tercatat sebanyak 3.482 kegiatan. Aktivitas ini menjadi salah satu instrumen penting untuk menahan gejolak harga di tingkat konsumen.
Ketahanan pangan dinilai semakin kuat
Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai ketahanan pangan nasional terus menunjukkan penguatan. Ia menyebut sekitar 96% kebutuhan pangan nasional saat ini dipenuhi oleh produksi dalam negeri, sedangkan porsi impor hanya berkisar 4% hingga 5%.
Pemerintah juga melanjutkan agenda pengurangan impor melalui peningkatan produksi domestik. Setelah menghentikan impor beras umum dan jagung pakan sejak 2025, pemerintah menargetkan pengurangan ketergantungan impor pada komoditas gula konsumsi mulai 2026.
Dengan rangkaian kebijakan itu, Bapanas menilai pasokan pangan nasional tetap aman dan harga kebutuhan pokok masyarakat masih bisa dijaga meski tekanan ekonomi dan geopolitik global belum mereda.
Source: www.beritasatu.com