Saham bank-bank besar di Bursa Efek Indonesia kompak tertekan pada perdagangan Rabu (3/6/2026), seiring anjloknya indeks harga saham gabungan atau IHSG. Dari empat bank jumbo, BBCA menjadi saham yang paling dalam koreksinya dengan penurunan 5,15 persen.
Penurunan serentak juga dialami BBRI, BMRI, dan BBNI, yang menunjukkan investor melepas saham perbankan berkapitalisasi besar di tengah tekanan pasar yang lebih luas. Kondisi ini membuat sektor keuangan kembali menjadi sorotan karena bobotnya yang besar terhadap arah IHSG.
BBCA Pimpin Koreksi Saham Bank Jumbo
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 300 poin ke level Rp 5.525 per saham. Harga itu juga menjadi posisi terendah BBCA dalam 52 minggu terakhir.
Sepanjang perdagangan, BBCA sempat dibuka di Rp 5.775 dan mencapai level tertinggi Rp 5.825. Namun, saham ini akhirnya ditutup di titik terendah hariannya dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 677,70 triliun.
Tekanan juga melanda PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI yang turun 5,05 persen ke Rp 3.570 per saham. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI ikut melemah 4,61 persen ke Rp 2.900 per saham.
Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI terkoreksi 2,88 persen ke level Rp 4.050 per saham. Koreksi yang terjadi hampir bersamaan pada empat bank besar ini memperlihatkan kuatnya tekanan jual di saham-saham andalan pasar.
Sentimen Global dan Domestik Menekan Pasar
Tekanan pada saham perbankan tidak berdiri sendiri karena pasar juga menghadapi kombinasi sentimen eksternal dan internal. Dari luar negeri, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih tinggi dan mendorong investor mencari aset aman, termasuk dolar Amerika Serikat.
Penguatan dolar AS ikut terbantu oleh naiknya indeks dolar AS atau DXY setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan kondisi ekonomi yang masih solid. Situasi ini membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve semakin mengecil dan dolar AS tetap menguat.
Dari sisi domestik, BRI Danareksa Sekuritas menilai tekanan juga datang dari meningkatnya kebutuhan valuta asing pada kuartal II 2026. Kebutuhan itu antara lain terkait pembayaran bunga dan pokok utang luar negeri, serta repatriasi investasi.
Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia disebut terus menyusut di tengah kenaikan impor yang didorong kebijakan pro-pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut ikut menambah tekanan pada rupiah dan sentimen pasar keuangan.
IHSG Ikut Terkapar
Di tengah pelemahan saham bank besar, IHSG ditutup ambles 4,11 persen ke level 5.941. Posisi itu menjadi level terendah IHSG sepanjang tahun berjalan atau year to date.
Bobot besar saham perbankan membuat koreksi di BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI langsung terasa pada indeks utama. Tekanan pada sektor ini menunjukkan bahwa pergerakan saham bank jumbo masih sangat menentukan arah pasar saham Indonesia ketika sentimen global dan domestik sama-sama belum mereda.
Source: www.beritasatu.com