Surplus Dagang Indonesia Hampir Nol, Lonjakan Impor Energi Menggerus Penyangga Ekonomi

Surplus perdagangan Indonesia pada April 2026 turun sangat tajam hingga nyaris mendekati nol. Lonjakan impor menjadi penyebab utama, meski ekspor nasional masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat.

Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, mencatat surplus perdagangan hanya sebesar USD89,1 juta. Angka itu anjlok dari USD3,32 miliar pada Maret 2026 dan jauh di bawah perkiraan pasar yang berada di kisaran USD1,5 miliar.

Ekspor Masih Kuat, Impor Jauh Lebih Cepat

Novani menegaskan bahwa penyusutan surplus bukan muncul karena ekspor melemah. Sebaliknya, impor tumbuh jauh lebih cepat dan hampir menghapus kelebihan neraca perdagangan yang sudah terbentuk.

Ekspor Indonesia pada April 2026 masih naik 12,3 persen secara bulanan menjadi USD25,3 miliar. Di saat yang sama, impor melonjak 31,3 persen menjadi USD25,2 miliar sehingga selisih keduanya tinggal tipis.

Kinerja ekspor nonmigas juga tetap positif dengan kenaikan 13,7 persen MoM menjadi USD24,1 miliar. Dorongan utama datang dari ekspor CPO dan turunannya, produk nikel, mesin, serta berbagai produk manufaktur bernilai tambah.

Faktor Eksternal Masih Mendukung Ekspor

Novani menilai fondasi ekspor Indonesia masih cukup tahan banting di tengah tekanan neraca perdagangan. Harga batu bara tercatat naik 32,8 persen secara tahunan, sementara harga logam tetap tinggi.

Aktivitas manufaktur di Tiongkok, India, dan Jepang juga masih berada dalam fase ekspansif. Kondisi itu ikut menjaga permintaan terhadap sejumlah komoditas ekspor Indonesia tetap kuat.

Impor Energi Tekan Neraca Perdagangan

Tekanan terbesar justru datang dari impor energi. Defisit perdagangan migas melebar menjadi USD3,4 miliar pada April 2026, hampir dua kali lipat dari USD1,89 miliar pada Maret 2026.

Lonjakan itu terjadi setelah impor minyak dan gas naik 45,1 persen secara bulanan menjadi USD4,6 miliar. Kenaikan terutama berasal dari impor minyak mentah dan produk minyak bumi olahan.

Selain energi, impor bahan baku dan barang setengah jadi juga meningkat tajam. Menurut Novani, pola ini menunjukkan adanya pemulihan aktivitas produksi domestik sekaligus naiknya kebutuhan energi di sektor industri.

Surplus Nonmigas Masih Ada, tetapi Tertutup Defisit Migas

Indonesia masih membukukan surplus perdagangan nonmigas sebesar USD3,5 miliar. Surplus itu ditopang oleh ekspor CPO, bahan bakar mineral seperti batu bara, serta produk besi dan baja.

Namun, surplus nonmigas tersebut hampir seluruhnya terkikis oleh membengkaknya defisit perdagangan migas. Kondisi ini membuat surplus perdagangan total turun sangat dalam meski kinerja ekspor inti masih terjaga.

Prospek Surplus ke Depan

Novani memperkirakan Indonesia masih akan mencatat surplus perdagangan ke depan. Meski begitu, nilainya diperkirakan lebih rendah dibandingkan rata-rata surplus yang terbentuk sepanjang 2025.

Risiko utama masih berasal dari tingginya impor energi, kebutuhan bahan baku impor untuk industri, serta potensi pelemahan harga komoditas ekspor di pasar global. Jika tekanan itu berlanjut, surplus perdagangan bisa makin terbatas perannya sebagai penyangga eksternal dan menahan tekanan depresiasi rupiah.

Source: www.medcom.id

Berita Terkait

Back to top button