Tiga Faktor Ini Bikin Bos BI Yakin Ekonomi RI Bisa Melaju, Dari Fiskal Hingga Hilirisasi

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo meyakini ekonomi Indonesia pada 2027 bisa tumbuh hingga mencapai batas atas proyeksi 5,9 persen. Keyakinan itu bertumpu pada permintaan domestik yang dinilai tetap kuat, sekaligus ditopang oleh sejumlah kebijakan yang menjaga mesin pertumbuhan tetap bergerak.

Perry menyampaikan pandangan tersebut dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR di Jakarta. Ia menilai, dorongan dari dalam negeri akan menjadi penopang utama pertumbuhan, sementara perbaikan kondisi global ikut memberi ruang tambahan bagi ekonomi Indonesia.

Fiskal yang tetap hati-hati jadi penopang awal

Menurut Perry, optimisme BI tidak lepas dari kebijakan fiskal pemerintah yang tetap prudent. Defisit yang rendah dan terkendali disebut memberi sinyal stabil bagi perekonomian, terutama saat pemerintah menjaga disiplin anggaran di tengah kebutuhan belanja pembangunan.

Ia juga menekankan pentingnya realokasi anggaran agar belanja negara lebih efisien dan produktif. Arah kebijakan yang pro-growth dan pro-welfare dinilai bisa memperkuat konsumsi masyarakat sekaligus mendorong aktivitas ekonomi yang lebih luas.

Program prioritas nasional terus jadi penggerak

Faktor kedua datang dari pelaksanaan program prioritas nasional yang terorkestrasi dengan baik. Perry menyebut sejumlah agenda utama seperti ketahanan pangan, ketahanan energi, hilirisasi, dan industrialisasi sumber daya alam sebagai motor yang dapat menjaga momentum pertumbuhan.

Program-program itu dinilai penting karena tidak hanya mendorong aktivitas ekonomi jangka pendek, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi dalam jangka menengah. Di saat yang sama, sektor-sektor tersebut dapat membuka ruang bagi investasi dan memperbesar nilai tambah di dalam negeri.

Koordinasi BI dan pemerintah ikut diperkuat

Faktor ketiga adalah penguatan koordinasi antara BI dan pemerintah. Menurut Perry, sinergi kebijakan dibutuhkan agar pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan tanpa mengorbankan stabilitas makroekonomi.

Ia menegaskan bahwa kebijakan moneter tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas. Namun, BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran untuk mendukung aktivitas ekonomi nasional.

Perry menambahkan, dukungan dari sisi eksternal juga ikut membantu prospek ekonomi Indonesia. Ekonomi dunia diperkirakan membaik, dengan pertumbuhan yang naik dari 3 persen pada 2026 menjadi 3,1 persen pada 2027, sehingga memberi peluang lebih besar bagi ekspor Indonesia.

Dengan kombinasi permintaan domestik yang kuat, kebijakan fiskal yang hati-hati, program prioritas nasional yang berjalan, serta koordinasi kebijakan yang lebih erat, BI melihat ruang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terbuka lebar. Pada saat yang sama, bank sentral menegaskan dukungannya terhadap stabilitas melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.

Source: www.viva.co.id

Berita Terkait

Back to top button