BCA Lanjutkan Buyback Rp 5 Triliun, Sinyal Optimisme Saat Saham BBCA Baru Menguat 9,71 Persen

Program buyback saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali berjalan dan langsung menarik perhatian pasar. Manajemen menyiapkan dana maksimal Rp 5 triliun untuk aksi korporasi yang menjadi sinyal optimisme terhadap prospek industri keuangan di dalam negeri.

Kelanjutan buyback ini juga menegaskan bahwa BCA tetap fokus pada fundamental bisnis perseroan. Di saat yang sama, kebijakan tersebut muncul ketika saham BBCA justru sedang menguat di tengah penguatan sektor perbankan.

Buyback berlangsung setahun penuh

Program pembelian kembali saham ini merupakan kelanjutan dari persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan tahun buku 2025. Masa pelaksanaannya ditetapkan selama 12 bulan, terhitung sejak 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027.

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menyebut buyback sebagai bentuk kepercayaan perusahaan terhadap pasar modal Indonesia. Ia juga menegaskan bahwa keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan kondisi fundamental perseroan secara matang.

Dalam pernyataannya, manajemen menempatkan kepatuhan terhadap regulasi pasar modal sebagai prioritas utama. BCA juga menyampaikan apresiasi kepada pemegang saham atas kepercayaan dan dukungan yang terus diberikan.

Sinyal optimisme di tengah penguatan saham perbankan

Langkah buyback BCA hadir bersamaan dengan penguatan sektor perbankan setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen. Saham BBCA tercatat menguat 9,71 persen ke level 5.650 pada penutupan perdagangan Rabu (10/6/2026).

Kenaikan itu memberi konteks penting bagi aksi korporasi yang sedang berjalan. Pasar melihat pergerakan saham bank besar dalam fase pemulihan setelah sebelumnya mengalami koreksi yang cukup dalam.

Menurut analisis Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama, lonjakan harga saham perbankan saat ini mencerminkan proses pemulihan tersebut. Ia menilai pergerakan pasar ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh agenda global.

Faktor global masih membayangi pasar

Elandry menyebut rapat FOMC The Fed pada 16-17 Juni 2026 sebagai salah satu sentimen yang perlu dicermati investor. Selain itu, proses rebalancing indeks global MSCI pada akhir Juni juga dapat ikut memengaruhi arah pasar.

Kombinasi antara aksi buyback, penguatan saham BBCA, dan sentimen global membuat perhatian investor tertuju ke perbankan besar. Dalam situasi seperti ini, langkah buyback sering dibaca pasar sebagai upaya menjaga stabilitas persepsi terhadap saham perusahaan.

Bagi BCA, program ini menjadi bagian dari strategi untuk menjaga performa bisnis tetap stabil dan berkelanjutan. Hendra Lembong menegaskan bahwa perseroan akan terus melangkah pruden pada tahun 2026 sambil tetap berfokus pada kekuatan fundamental bisnis.

Exit mobile version