Keberanian Nirin Samsudin memulai usaha dari nol kini membuahkan hasil yang nyata di Kampung Cisaat, Desa Kertarahayu, Setu, Kabupaten Bekasi. Dari pekerjaan sehari-hari sebagai pengangkut pakan, pria 47 tahun itu melihat peluang di sektor pasokan telur dan membangun peternakan ayam petelur mandiri yang terus berkembang.
Usaha yang kini menampung 1.000 ekor ayam itu menjadi contoh bagaimana modal yang tepat sasaran dapat mengubah skala usaha kecil. Nirin memulai langkahnya pada 2020 tanpa modal pribadi, lalu berani meminjam Rp 60 juta untuk mendirikan kandang pertama berkapasitas 700 ekor ayam.
Setelah pinjaman awal lunas, Nirin memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari BRI untuk mempercepat ekspansi. Ia mengajukan modal Rp 100 juta dengan tenor tiga tahun, lalu dana tersebut dipakai untuk renovasi kandang baru dan menambah populasi ayam hingga mencapai 1.000 ekor.
Ekspansi yang ditopang disiplin usaha
Bagi Nirin, akses pembiayaan bukan satu-satunya kunci. Ia juga menjaga arus kas usaha dengan disiplin, termasuk saat kembali mengajukan kredit serupa senilai Rp 100 juta ke BRI setelah pinjaman pertama selesai, yang difokuskan untuk perbaikan fasilitas kandang dan pembelian bibit ayam petelur baru dari Tangerang.
Peternakan keluarga Nirin kini memproduksi telur sekitar 55 hingga 57 kilogram per hari. Penjualan berjalan lancar karena pembeli langsung dan pemilik warung sembako di sekitar lokasi rutin datang membeli, sehingga telur hampir tidak pernah menumpuk di kandang.
Di sisi operasional, Nirin menghabiskan dana rutin sekitar Rp 2 juta per bulan, sementara biaya pakan mencapai Rp 19 juta per bulan. Bibit ayam dibeli saat berusia 13 minggu dan mulai bertelur sekitar satu bulan kemudian, dengan masa produktif rata-rata sekitar dua tahun.
Dari telur harian ke pendapatan keluarga
Setelah masa produktif habis, ayam afkir tetap memberi nilai ekonomi. Ayam jenis itu dijual kembali ke pasar, dan harganya bisa ikut naik pada momentum hari besar di desa, termasuk saat lebaran ketika nilainya dapat mencapai Rp 60.000 per ekor.
Dari aktivitas peternakan ini, keluarga Nirin memperoleh keuntungan bersih bulanan sekitar Rp 14 juta. Ia juga memperoleh pendapatan lain sebagai pemasok pakan peternakan warga lain, yang memperluas sumber penghasilan di luar penjualan telur.
Usaha ini turut membuka lapangan kerja kecil bagi warga sekitar. Nirin mempekerjakan warga secara berkala untuk membersihkan kotoran ayam setiap empat hari sekali dengan upah sekitar Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu per hari.
Limbah yang ikut bernilai ekonomi
Kotoran ternak tidak dibuang begitu saja. Limbah itu dijual ke petani lokal seharga Rp 10 ribu per karung untuk diolah menjadi pupuk organik bagi tanaman padi.
Permintaan terhadap pupuk dari kotoran ayam disebut terus berjalan. Nirin menyebut para petani di wilayahnya senang karena pupuk tersebut dinilai bagus untuk tanaman, sehingga limbah kandang justru menjadi sumber nilai tambah baru.
Peran Nirin juga meluas ke lingkungan sekitarnya. Sikapnya yang terbuka dalam berbagi pengetahuan manajemen ternak membuatnya menjadi pionir peternakan ayam petelur di Kampung Cisaat.
Menjadi rujukan bagi peternak lain
Dari praktik usaha yang ia bangun, muncul tujuh lokasi peternakan baru dengan total populasi mencapai 8.000 ekor ayam. Seluruh kebutuhan pakan untuk jaringan peternak itu dibeli langsung oleh Nirin dari pabrik besar di Cikiwul, Bantargebang, Bekasi, sehingga rantai pasok lebih pendek dan harga pakan lebih terkendali.
Saat harga pakan naik, Nirin memilih menahan margin keuntungannya agar peternak binaannya tetap bertahan. Cara itu membuat hubungan dengan pelanggan dan sesama peternak tetap terjaga, sekaligus menjaga kepercayaan yang menjadi dasar perkembangan usahanya.
Di sisi lain, BRI melihat usaha seperti milik Nirin sebagai contoh pembiayaan mikro yang berjalan efektif. Kepala BRI Unit Setu Bekasi, Setia Adi, menyatakan pihaknya berkomitmen mendampingi pelaku UMKM potensial melalui KUR agar pembiayaan benar-benar membantu pengembangan usaha.
Adi juga menyebut petugas lapangan BRI wajib melakukan pemantauan dan edukasi berkala kepada debitur KUR minimal dua kali dalam sebulan. Pendampingan semacam itu diharapkan menjaga kelayakan usaha sekaligus memastikan pembiayaan terus memberi dampak di tingkat ekonomi kerakyatan.







