Harga Antam Tetap, Buyback Anjlok Rp52 Ribu Saat Galeri 24 Dan UBS Ikut Melemah

Pergerakan harga emas domestik pada Kamis (25/6/2026) menunjukkan arah yang tidak seragam. Harga emas Antam di Logam Mulia tetap stabil, sementara produk Galeri 24 dan UBS di Pegadaian sama-sama terkoreksi.

Stabilnya Antam memberi sinyal berbeda dibandingkan dua produk lain yang justru melemah pada hari yang sama. Kondisi ini juga terjadi saat harga emas dunia turun tajam dan kembali berada di bawah level psikologis 4.000 dollar AS per ons.

Berdasarkan data resmi laman Logam Mulia pukul 09.00 WIB, emas Antam dibanderol Rp 2.655.000 per gram. Harga itu tidak berubah dari perdagangan sebelumnya, meski harga buyback Antam turun tajam Rp 52.000 per gram menjadi Rp 2.320.000 per gram.

Di jalur distribusi lain, emas Antam yang dijual melalui Pegadaian juga tidak bergerak. Harganya tetap di Rp 2.762.000 per gram, sehingga pasar mencatat perbedaan karakter antara produk yang stabil dan produk yang mengalami tekanan.

Galeri 24 dan UBS ikut melemah

Penurunan paling jelas terlihat pada emas batangan Galeri 24 dan UBS. Galeri 24 turun Rp 22.000 menjadi Rp 2.612.000 per gram, sedangkan UBS terkoreksi Rp 23.000 menjadi Rp 2.624.000 per gram.

Pelemahan dua produk tersebut memperlihatkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada emas global, tetapi juga merembet ke sebagian harga domestik. Meski begitu, emas Antam tetap bertahan di level sebelumnya dan menjadi pembeda utama pada perdagangan hari itu.

Tekanan datang dari pasar global

Di pasar internasional, harga emas spot merosot 3,3 persen ke 3.973,79 dollar AS per ons. Kontrak emas berjangka AS juga turun 3,4 persen menuju 4.008,80 dollar AS per ons.

Pelemahan itu terjadi di tengah penguatan dollar AS dan proyeksi kenaikan suku bunga The Fed. Kombinasi dua faktor tersebut membuat minat terhadap logam mulia tertekan lebih dalam.

Ekspektasi suku bunga ikut menekan emas

Pedagang logam independen Tai Wong menyebut pelaku pasar mulai mengantisipasi kemungkinan percepatan kenaikan suku bunga pada September mendatang. Ekspektasi itu membuat emas kehilangan sebagian daya tariknya sebagai aset lindung nilai.

Tai Wong juga menilai penguatan dollar AS ke level tertinggi dalam 13 bulan terakhir ikut menambah tekanan. Di saat yang sama, menurunnya ekspektasi inflasi memperkuat sentimen bearish di pasar emas.

Meski tekanan terasa berat, penurunan emas masih tertahan oleh aksi pembelian dari bank sentral. Faktor ini membantu menjaga agar pelemahan tidak berlangsung lebih dalam di tengah kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Bagi pasar domestik, kondisi tersebut menciptakan situasi yang menarik untuk dicermati. Antam bertahan, sementara Galeri 24 dan UBS melemah, sehingga pergerakan harga emas pada hari itu tampak dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan respons masing-masing produk di dalam negeri.

Terkait