IHSG Terseret Big Caps, Ambles Ke 5.896 Saat Tekanan Asia Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menutup perdagangan Jumat di zona merah setelah terkoreksi 102,91 poin atau 1,72 persen ke level 5.896. Sepanjang sesi, indeks bergerak di rentang 5.830 hingga 6.045 sebelum akhirnya kehilangan tenaga di penutupan.

Tekanan utama datang dari pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps, terutama emiten yang terafiliasi dengan konglomerasi Prajogo Pangestu. Kondisi itu terjadi bersamaan dengan melemahnya mayoritas bursa saham Asia, sehingga sentimen negatif di pasar regional ikut menambah beban pergerakan IHSG.

Tekanan dari saham berkapitalisasi besar

Koreksi pada sejumlah saham big caps menjadi faktor paling berat bagi indeks. Penurunan saham-saham tersebut memberi dampak besar terhadap arah IHSG karena bobotnya yang besar dalam perhitungan indeks.

Selain itu, sentimen pasar juga cenderung hati-hati setelah perdagangan sebelumnya sempat menguat. Meski demikian, dorongan positif pada sejumlah saham lain tidak cukup kuat untuk menahan penurunan indeks utama di Bursa Efek Indonesia.

Hampir semua sektor ikut melemah

Pelemahan IHSG tercermin dari kondisi sektor saham yang nyaris seluruhnya berakhir di zona merah. Sektor material dasar menjadi yang paling tertekan dengan koreksi sekitar 5 persen.

Tekanan juga terlihat pada sektor industri yang melemah 4,24 persen, sektor infrastruktur turun lebih dari 4 persen, sektor konsumer primer terkoreksi 2,96 persen, sektor energi melemah 2,62 persen, dan sektor teknologi turun 2,51 persen. Di tengah pelemahan luas itu, sektor keuangan menjadi satu-satunya yang masih bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,03 persen.

Nilai transaksi ikut turun

Aktivitas perdagangan pada hari ini juga melemah dibandingkan sesi sebelumnya. Nilai transaksi tercatat Rp11,25 triliun, menunjukkan penurunan minat transaksi di tengah tekanan yang melanda pasar.

Kondisi tersebut memperlihatkan kehati-hatian investor saat menghadapi koreksi pada saham-saham besar dan pelemahan di berbagai sektor. Dalam situasi seperti ini, pergerakan indeks lebih banyak ditentukan oleh emiten-emiten berbobot besar.

Masih ada saham yang mencatat lonjakan

Di tengah penurunan IHSG, beberapa saham tetap menunjukkan penguatan kuat dan bahkan menyentuh batas auto reject atas atau ARA. BBRM naik 34,74 persen menjadi Rp128, disusul TRUS yang melonjak 25 persen menjadi Rp350.

Penguatan juga dicatat ARTA yang naik 23,15 persen menjadi Rp2.660, BHAT menguat 20,23 persen menjadi Rp2.080, dan RICY bertambah 19,72 persen menjadi Rp85. Meski begitu, kenaikan saham-saham tersebut belum mampu menutupi tekanan dari saham big caps yang menjadi penentu arah indeks.

Berbalik setelah sempat menguat

Pelemahan pada Jumat terjadi setelah IHSG sempat menguat kuat pada perdagangan sebelumnya. Pada Kamis, indeks naik 115,16 poin atau 1,96 persen dan ditutup di level 5.999, meski investor asing masih mencatat net sell Rp299 miliar.

Pada sesi itu, aksi jual asing terbesar terjadi pada BMRI sebesar Rp224,17 miliar, BBRI sebesar Rp93,23 miliar, dan KLBF sebesar Rp77,31 miliar. Penguatan IHSG saat itu didorong oleh hampir seluruh sektor, dengan kenaikan menonjol pada material dasar, industri, konsumer nonprimer, dan konsumer primer yang masing-masing naik lebih dari 2 persen.

Sektor kesehatan dan infrastruktur bahkan sempat menguat di atas 3 persen, sementara sejumlah saham seperti RBMS, YUPI, KONI, FUTR, ZONE, dan RGAS menjadi penggerak kenaikan. Namun pada perdagangan berikutnya, dorongan tersebut tidak bertahan ketika tekanan pada saham besar dan sentimen Asia kembali mendominasi pasar.

Source: www.viva.co.id

Terkait