Strategy Tertekan Saat Sinyal Beli Bitcoin Muncul, Saham Ambles di Tengah Beban Dividen Rp19 Triliun

Author: Qoo Media

Tekanan terhadap Strategy semakin besar justru saat Michael Saylor memberi sinyal bahwa perusahaan itu akan kembali membeli Bitcoin dalam waktu dekat. Sinyal tersebut muncul ketika harga Bitcoin melemah, saham biasa Strategy jatuh, dan struktur pendanaan perusahaan ikut tertekan oleh beban dividen yang terus membengkak.

Situasi ini membuat pasar menyorot kembali model leverage yang selama ini dipakai Strategy untuk menambah kepemilikan Bitcoin. Di saat yang sama, perusahaan harus menghadapi risiko yang sulit dipilih, karena menjual Bitcoin dapat merusak reputasi korporasi, sementara menerbitkan saham baru berpotensi menggerus kepemilikan investor lama.

Harga Bitcoin menekan neraca dan valuasi

Strategy kini memegang 847.363 Bitcoin dengan harga rata-rata pembelian US$75.646 per koin. Dengan harga Bitcoin yang bertahan di kisaran US$60.000, posisi itu memunculkan kerugian teoretis sekitar US$13 miliar hingga US$14 miliar.

Tekanan harga aset kripto utama itu ikut menyeret saham biasa Strategy dengan kode MSTR ke level US$82 pada Jumat pekan lalu. Level itu menjadi titik terendah sejak Februari 2024, sementara saham preferen Stretch atau STRC sempat turun tajam hingga ke US$71.

Jeff Dorman, Chief Investment Officer Arca, menilai perusahaan tengah menghadapi persoalan besar. Ia mengatakan mereka tidak bisa memuaskan semua bagian dari struktur modalnya.

Beban dividen makin berat

Masalah Strategy tidak berhenti pada penurunan harga saham dan Bitcoin. Kewajiban dividen tahunan perusahaan melonjak hampir empat kali lipat sejak awal 2026 menjadi sekitar US$1,2 miliar setelah penerbitan saham preferen berdividen tinggi.

Lonjakan kewajiban itu membuat tekanan finansial perusahaan semakin terlihat. Beban tetap yang membesar datang bersamaan dengan pendapatan dan valuasi yang ikut bergantung pada arah harga Bitcoin.

Di tengah kondisi tersebut, manajemen Strategy tetap memberi sinyal ekspansi kepemilikan aset kripto. Michael Saylor menandai lewat platform X pada Minggu, 28 Juni 2026, bahwa perusahaan pemegang Bitcoin korporat terbesar itu akan melakukan pembelian baru.

Pilihan yang sama-sama berisiko

Sejumlah analis menilai ruang gerak Strategy kini makin sempit. Opsi menjual Bitcoin dinilai berbahaya bagi citra perusahaan, sedangkan menerbitkan saham baru dinilai berisiko mengurangi porsi kepemilikan investor yang sudah ada.

Dorman juga menegaskan bahwa perusahaan berada dalam posisi sulit dan pada akhirnya harus menjual sesuatu. Pandangan itu mencerminkan tekanan yang dihadapi strategi pendanaan berbasis leverage ketika aset utama yang menopangnya justru melemah.

Pergeseran manajemen keuangan perusahaan turut menambah kehati-hatian pasar. Pada awal Juni, Strategy sempat menjual 32 Bitcoin senilai US$2,5, langkah yang ikut memengaruhi psikologis investor dan memicu volatilitas pada instrumen Stretch.

Farrell mengingatkan bahwa risiko tidak seharusnya ditempatkan di neraca yang bergantung pada kenaikan harga suatu aset dalam jangka waktu tertentu. Pihak manajemen Strategy sendiri memilih tidak memberi komentar resmi soal tekanan finansial yang muncul akibat skema leverage tersebut.

Pasar menunggu dukungan baru

Catatan analis menyebut model bisnis Strategy yang menggunakan leverage kini berada di bawah tekanan, dan kondisi itu telah meningkatkan volatilitas pasar BTC secara keseluruhan. Pasar juga memerlukan pergerakan dari investor institusi lain untuk membantu menstabilkan harga aset digital ke depan.

Di sisi lain, ada pandangan bahwa kapasitas Strategy untuk kembali mengakumulasi Bitcoin bisa terbatas pada level harga saham saat ini untuk STRC dan MSTR. Itu membuat sinyal pembelian baru dari Saylor terdengar kontras dengan kondisi finansial perusahaan yang sedang tertekan.

Terbaru