Suku Bunga Tinggi Dan Perebutan Dana Murah, Ujian Berat Bank Di Semester II/2026

Author: Qoo Media

Tekanan yang dihadapi industri perbankan pada semester II/2026 diperkirakan makin berat karena kombinasi suku bunga tinggi, persaingan menghimpun dana pihak ketiga, dan ketidakpastian ekonomi global. Dalam situasi seperti ini, bank dituntut lebih disiplin dalam menyalurkan kredit dan menjaga kualitas pertumbuhan agar tidak tertekan oleh biaya dana yang meningkat.

Analis Ajaib Sekuritas, Alvin Murthi, menilai periode ini akan menjadi fase yang menuntut kehati-hatian lebih besar dari perbankan. Ia menekankan bahwa efisiensi biaya dana, penguatan CASA, dan pengelolaan risiko kredit akan menjadi faktor utama untuk menjaga kinerja tetap stabil.

Persaingan dana murah makin menentukan

Di tengah kompetisi penghimpunan dana yang semakin ketat, kemampuan bank memperbesar porsi dana murah atau CASA menjadi sangat penting. Komposisi CASA yang lebih besar dapat menekan biaya dana dan membantu menjaga margin bunga tetap sehat.

Alvin juga menilai bank yang memiliki struktur pendanaan kuat akan lebih siap menghadapi tekanan industri. Selain itu, kualitas aset yang terjaga dan permodalan yang memadai memberi ruang lebih besar bagi bank untuk mempertahankan kinerja.

Kredit harus tumbuh lebih selektif

Selain menghimpun dana, bank juga perlu lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Alvin menyebut selektivitas menjadi penting agar pertumbuhan tetap berkualitas dan risiko kredit tidak meningkat di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pasti.

Pengelolaan risiko kredit menjadi salah satu elemen yang tidak bisa diabaikan. Jika biaya dana naik lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan, maka profitabilitas bank bisa ikut tertekan.

Digital banking ikut jadi penopang

Pengembangan layanan digital dinilai menjadi strategi penting untuk memperkuat CASA. Digital banking dapat memperluas basis nasabah transaksional, meningkatkan frekuensi transaksi, dan membuka peluang lebih besar bagi bank untuk menghimpun dana murah.

Menurut Alvin, transaksi nasabah yang lebih aktif akan mendorong peluang bank memperoleh CASA secara berkelanjutan. Kondisi ini penting karena efisiensi biaya dana sangat berpengaruh terhadap profitabilitas jangka panjang.

Posisi BWS jadi sorotan

Salah satu bank yang dinilai perlu memanfaatkan momentum ini adalah PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. atau BWS. Berdasarkan laporan keuangan kuartal I/2026, perseroan membukukan laba bersih Rp106,83 miliar dengan pendapatan bunga bersih Rp387,96 miliar dan laba operasional Rp137,20 miliar.

Total aset BWS tercatat Rp54,19 triliun, dengan penyaluran kredit Rp40,87 triliun dan ekuitas Rp12,96 triliun. Namun, struktur DPK masih didominasi deposito sebesar Rp24,81 triliun, sedangkan giro dan tabungan masing-masing mencapai Rp3,61 triliun dan Rp4,16 triliun.

Komposisi tersebut menunjukkan tantangan utama BWS masih berada pada penguatan CASA, pengelolaan likuiditas, dan pengembangan layanan digital. Tiga hal itu dinilai penting untuk menjaga efisiensi biaya dana dan mempertahankan daya saing pada semester II/2026.

Source: finansial.bisnis.com
Terbaru