Pembukaan perdagangan di akhir Juni langsung menghadirkan tekanan besar bagi pasar saham Indonesia. IHSG bergerak ke zona merah sejak awal sesi dan melemah 1,29 persen hanya beberapa menit setelah perdagangan dimulai.
Pada Selasa (30/6/2026), data perdagangan RTI menunjukkan indeks turun ke level 5.801,45 saat pembukaan. Tidak lama kemudian, sekitar lima menit setelah pasar berjalan, koreksi makin dalam dan membuat IHSG menyentuh 5.745,82.
Pelemahan itu setara dengan penurunan 74,96 poin pada pukul 09.05. Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen negatif muncul cukup cepat pada awal transaksi dan langsung menekan indeks acuan pasar modal Indonesia.
Mayoritas saham ikut melemah
Tekanan pada IHSG datang dari dominasi saham yang terkoreksi di Bursa Efek Indonesia. Tercatat 330 saham melemah, sementara hanya 139 saham yang menguat dan 170 saham bergerak stagnan.
Komposisi tersebut menunjukkan tekanan jual masih lebih kuat dibanding minat beli pada sesi pagi. Kondisi itu membuat pergerakan indeks sulit bertahan di area pembukaan dan terus bergerak lebih rendah.
Di tengah pelemahan harian itu, IHSG juga masih berada dalam tren negatif yang panjang sejak awal tahun. Secara kumulatif, indeks tercatat turun 33,51 persen dan melemah 20,31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Aktivitas transaksi masih ramai
Meski pasar tertekan, aktivitas transaksi pada sesi pagi tetap tercatat tinggi. Volume perdagangan mencapai 1,02 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp 1 triliun.
Frekuensi perdagangan juga menyentuh 98.326 kali, menandakan pasar tetap aktif meski arah indeks cenderung turun. Angka ini memperlihatkan bahwa investor masih bergerak cepat merespons pelemahan yang terjadi sejak pembukaan.
Kondisi seperti ini sering membuat pelaku pasar menahan diri sambil menunggu arah yang lebih jelas. Namun pada awal perdagangan akhir Juni, tekanan di saham-saham yang lebih banyak melemah membuat IHSG belum mampu keluar dari zona merah.






