Pasar pinjaman berbasis Bitcoin memasuki fase baru yang lebih mapan setelah runtuhnya kredit kripto pada 2022. Silicon Valley Bank menilai perubahan ini ditopang oleh kontrol risiko yang lebih ketat, keterlibatan lembaga keuangan yang semakin besar, dan prospek biaya pinjaman yang turun di masa depan.
Pergeseran tersebut penting karena mengubah cara pasar memandang Bitcoin sebagai agunan. Jika dulu sektor ini banyak bergantung pada pemberi pinjaman dengan regulasi ringan, kini praktiknya mulai mengikuti konvensi keuangan tradisional dengan manajemen agunan yang lebih konservatif, transparansi yang lebih tinggi, dan penjaminan kredit yang lebih disiplin.
Anthony Vassallo dan Josh Pherigo dari Silicon Valley Bank menyebut Bitcoin telah lama membuktikan kelayakannya. Mereka juga mengatakan sebagian pelaku pasar kini melihat Bitcoin sebagai jaminan dengan likuiditas instan dan global, penyelesaian cepat, fungibilitas, serta risiko minimal.
Minat institusi besar di Amerika Serikat turut mendorong pertumbuhan fasilitas kredit yang didukung Bitcoin. Total nilai pinjaman kripto dilaporkan melonjak menjadi 67 miliar dolar AS, atau naik 49 persen secara tahunan.
Kenaikan harga aset dan meluasnya kepemilikan ikut memperbesar ruang bagi pemegang BTC jangka panjang untuk memanfaatkan pinjaman ini. Banyak di antara mereka memilih memperoleh likuiditas tanpa harus menjual koin, baik untuk kebutuhan modal kerja maupun untuk efisiensi pajak.
Tren ini menunjukkan bahwa pinjaman beragun Bitcoin tidak lagi berdiri sebagai produk pinggiran di pasar kripto. Dengan masuknya lembaga keuangan dan penerapan kontrol yang lebih ketat, pasar tersebut kini bergerak mendekati standar pembiayaan arus utama.
Bagi pasar aset digital, perubahan ini memberi sinyal bahwa Bitcoin semakin diperlakukan sebagai aset jaminan yang fungsional. Namun, pertumbuhan itu juga tetap bergantung pada disiplin risiko agar ekspansi kredit tidak mengulang masalah lama yang pernah mengguncang industri.







