Produksi mobil Daihatsu di Indonesia tengah melaju lebih kencang dari tahun lalu. Hingga YTD Mei, total produksi perusahaan itu mencapai sekitar 169.000 unit, naik 11 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di 152.400 unit.
Lonjakan itu menarik perhatian bukan hanya karena angkanya, tetapi juga karena dampaknya ke rantai pasok lokal. Daihatsu melibatkan sekitar 700 vendor UMKM dari total 1.700 rantai pasok yang menopang aktivitas produksinya di Indonesia.
Rantai pasok lokal tetap hidup
Marketing Director dan Corporate Communication Director PT Astra Daihatsu Motor, Sri Agung Handayani, menyebut UMKM berada di berbagai lapisan pemasok, mulai tier 1, tier 2, hingga tier 3. Ia menegaskan bahwa keterlibatan pelaku usaha kecil menjadi bagian penting dari tanggung jawab perusahaan terhadap ekosistem industri otomotif.
Menurut Agung, pelibatan vendor lokal membantu menjaga stabilitas ekonomi daerah. Aktivitas itu juga membuat bisnis komponen pendukung tetap bergerak di tengah dinamika pasar global.
Pasar domestik dan ekspor sama-sama tumbuh
Daihatsu tidak hanya mengandalkan pasar dalam negeri untuk menjaga kapasitas produksinya. Perusahaan itu juga memproduksi kendaraan untuk pasar ekspor, sehingga ruang pertumbuhannya lebih luas.
Agung mengatakan, strategi tersebut membantu perusahaan menggerakkan peluang di domestik dan ekspor agar rantai pasok tetap efektif dan produktif. Ia juga menilai kondisi itu penting karena di dalamnya ada ratusan ribu hingga sekitar satu juta keluarga yang ikut bergantung pada industri ini.
Produksi naik di dua jalur penjualan
Data yang disampaikan menunjukkan bahwa kenaikan produksi tidak hanya datang dari satu pasar. Domestik Daihatsu Indonesia tumbuh 3,6 persen, sementara ekspornya naik hampir 30 persen.
Kombinasi dua jalur penjualan itu membuat utilitas pabrik tetap terjaga. Dalam penjelasannya, Agung menyebut kondisi tersebut ikut membuat industri otomotif roda empat di Indonesia terus bergerak positif.
Bukan hanya mobil bermerek Daihatsu
Daihatsu di Indonesia juga memproduksi sejumlah kendaraan untuk induk perusahaannya, Toyota. Artinya, kapasitas produksi di pabrik-pabrik Indonesia tidak hanya menopang satu merek, tetapi juga portofolio yang lebih luas.
Kinerja tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu basis produksi penting di Asia Tenggara. Peningkatan volume perakitan di pabrik terintegrasi juga menjadi sinyal bahwa aktivitas manufaktur otomotif dalam negeri masih memiliki daya tahan yang kuat.
Isyarat positif bagi tenaga kerja industri
Capaian produksi yang solid ini ikut meredakan kekhawatiran soal dampak fluktuasi ekonomi makro terhadap serapan tenaga kerja di sektor perakitan kendaraan. Agung menegaskan bahwa produksi perusahaan justru meningkat dibandingkan tahun lalu.
Pernyataan itu penting karena industri otomotif memiliki efek berganda yang besar, terutama lewat pemasok lokal dan tenaga kerja yang bergantung pada aktivitas manufaktur. Dengan produksi yang terus naik, roda bisnis di dalam rantai pasok pun ikut bergerak lebih stabil.







