Tekanan di pasar saham Indonesia semakin terasa saat investor asing melepas saham-saham unggulan dengan nilai triliunan rupiah. Aksi jual besar itu membuat IHSG anjlok 3,05 persen dan menutup perdagangan di level 5.643.
Koreksi dalam ini tidak terjadi tanpa alasan. Arus keluar dana asing mencapai net sell Rp 1,205 triliun dan langsung menekan saham-saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor perbankan.
Bank besar jadi sasaran utama
Tekanan paling besar datang dari saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net sell mencapai Rp 766 miliar. Setelah itu, investor asing juga melepas PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) senilai Rp 229 miliar dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp 158 miliar.
Pelepasan tidak berhenti di sektor keuangan. PT Astra International Tbk (ASII) ikut mencatat net sell Rp 89 miliar, sedangkan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dilepas asing sebesar Rp 59 miliar.
Ada pembelian selektif di saham tertentu
Di tengah tekanan jual yang dominan, asing masih masuk ke beberapa saham besar lain. Langkah ini membantu menahan penurunan IHSG agar tidak lebih dalam lagi.
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi saham dengan akumulasi beli terbesar, yakni Rp 87 miliar. Disusul PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar Rp 50 miliar dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) senilai Rp 45 miliar.
Pembelian juga tercatat pada PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) sebesar Rp 25 miliar. Sementara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dibeli asing sebanyak Rp 23 miliar.
IHSG sempat bertahan, lalu kembali tertekan
Sejak pembukaan, IHSG langsung bergerak di zona merah pada posisi 5.801,454. Indeks sempat bangkit dan menyentuh titik tertinggi harian di 5.811,669, tetapi tekanan jual terus berlanjut sampai penutupan.
Pada akhir sesi, IHSG terperosok mendekati area terendah hariannya di 5.638,574. Penurunan tajam ini memperlihatkan lemahnya minat beli saat pasar menghadapi aksi distribusi dari investor asing.
Transaksi ramai, tetapi mayoritas saham melemah
Aktivitas di Bursa Efek Indonesia tetap tinggi sepanjang perdagangan. Nilai transaksi harian mencapai Rp 15,331 triliun, dengan volume 22,727 miliar lembar saham dan frekuensi transaksi 1.623.526 kali.
Meski transaksi padat, arah pasar tetap didominasi koreksi. Hanya 136 saham yang menguat, sementara 564 saham melemah dan 99 saham bergerak stagnan.
Kondisi tersebut ikut menekan nilai kapitalisasi pasar BEI. Hingga penutupan, total kapitalisasi pasar tercatat berada di level Rp 9.919,310 triliun.







