Dodol Rumput Laut di Pulau Panggang, Cara Nina Mengubah Laut Jadi Cuan

Author: Qoo Media

Di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, dodol rumput laut menjadi salah satu contoh bagaimana bahan baku lokal bisa diolah menjadi produk bernilai jual. Produk itu dipasarkan dengan nama Dorula, singkatan dari dodol rumput laut, dan dijajakan di kios-kios kecil sebagai oleh-oleh bagi wisatawan yang datang ke pulau.

Usaha ini digerakkan oleh Mahdiah atau Nina, perempuan 56 tahun yang terus menjaga agar olahan rumput laut tetap punya tempat di pasar. Bagi Nina, produk tersebut bukan hanya makanan, tetapi juga upaya masyarakat pesisir untuk memperoleh cuan dari komoditas yang tersedia di lingkungan mereka.

Dari program pembinaan ke produk bernama Dorula

Perjalanan Dorula bermula dari program pemberdayaan UMKM melalui Program Peningkatan Keterampilan Usaha Rakyat atau PKUR dari Yayasan Baitul Maal BRILiaN. Nina lebih dulu menjalin kontak saat mengikuti bazar di Balai Kota Jakarta dan bertemu relawan pendamping UMKM.

Dari pertemuan itu, tim BRI datang ke Pulau Panggang untuk membentuk kelompok usaha berbasis komoditas lokal. Nina menyebut kelompok yang ia pimpin sempat mendapat pembinaan selama setahun, termasuk pelatihan pembukuan, pengelolaan usaha, hingga bantuan modal.

Kelompok itu beranggotakan 10 perempuan. Mereka menerima bantuan modal lebih dari Rp 40 juta yang dipakai untuk membeli bahan baku dan perlengkapan produksi seperti kompor, wajan, serta alat memasak lain.

Produksi masih tradisional dan sangat bergantung cuaca

Hingga kini, pembuatan Dorula masih dilakukan dengan cara tradisional. Proses pengeringan mengandalkan panas matahari, sehingga kualitas dan kecepatan produksi sangat dipengaruhi kondisi cuaca.

Dalam cuaca cerah, pengeringan bisa selesai sekitar tiga hari. Saat mendung atau hujan, prosesnya bisa molor hingga satu minggu, dan Nina mengaku kondisi itu membuat kebutuhan mesin pengering semakin terasa mendesak.

Ketergantungan pada cuaca membuat produksi tidak bisa dilakukan dalam jumlah besar. Meski begitu, Nina memilih tetap menjalankan usaha tersebut karena melihat rumput laut sebagai potensi lokal yang layak diolah menjadi produk unggulan daerah.

Pasar tak selalu mudah menerima dodol rumput laut

Tantangan utama Dorula bukan hanya pada proses produksi, tetapi juga pemasaran. Nina mengatakan sebagian calon pembeli menilai dodol rumput laut terlalu manis, apalagi di tengah perubahan selera konsumen yang kini lebih berhati-hati soal gula.

Kondisi itu membuat produk manis seperti dodol harus bersaing dengan berbagai camilan lain yang lebih dulu akrab di lidah pasar. Nina bahkan menyebut keluhan serupa sudah muncul sejak ia berjualan di Balai Kota Jakarta.

Untuk menyesuaikan kebutuhan pasar, Nina mencoba mengembangkan produk lain berbahan rumput laut, termasuk kerupuk rumput laut. Produk itu diharapkan bisa menjangkau konsumen yang lebih luas dan memberi pilihan di luar dodol.

Bahan baku ikut terdampak hama dan cuaca ekstrem

Selain persoalan pasar, ketersediaan rumput laut juga menjadi perhatian. Nina menyebut produksi rumput laut di Kepulauan Seribu tidak lagi sebanyak beberapa tahun lalu karena serangan hama dan cuaca ekstrem yang memengaruhi hasil panen pembudidaya.

Situasi tersebut ikut membatasi ruang produksi Dorula. Walau begitu, usaha ini tetap berjalan, meski tidak lagi sebesar masa awal pembinaan. Kelompok yang dulu dibentuk dalam program pendampingan kini telah berakhir, dan para anggotanya melanjutkan usaha masing-masing dengan bekal pengetahuan yang sudah diperoleh.

Lebih dari oleh-oleh khas pulau

Bagi Nina, Dorula punya nilai yang lebih besar daripada sekadar produk wisata. Dodol rumput laut ini menjadi simbol bagaimana masyarakat kepulauan mencoba mengolah sumber daya yang ada agar punya nilai ekonomi lebih tinggi.

Di tengah kendala pemasaran, perubahan selera pembeli, keterbatasan bahan baku, dan ketergantungan pada cuaca, Dorula tetap diproduksi sebagai bentuk optimisme bahwa produk lokal masih punya pasar. Nina menegaskan, selama masih ada yang membeli dan mencoba, usaha itu akan terus dipertahankan.

Kehadiran layanan keuangan seperti Kapal Bahtera Seva I juga ikut memberi dukungan bagi masyarakat kepulauan. Nina mengaku bersyukur karena layanan BRI bisa menjangkau pulau-pulau seperti Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Kelapa, Pulau Harapan, Pulau Tidung, hingga Pulau Untung Jawa.

Kapal Bahtera Seva melayani beragam kebutuhan nasabah, mulai dari pembukaan rekening, setor dan tarik tunai, pergantian kartu ATM, pencairan bantuan sosial, hingga pengajuan Kredit Usaha Rakyat. Layanan ini membantu perputaran uang di wilayah kepulauan dan memberi ruang bagi usaha kecil seperti Dorula untuk tetap bertahan.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru