Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI tengah jadi sorotan karena dinilai sudah terlalu murah dibandingkan fundamentalnya. Meski harga sahamnya sempat menguat 2,26 persen ke Rp3.170 per saham, KB Valbury Sekuritas menilai pelemahan yang terjadi selama ini justru membuka peluang bagi investor jangka panjang.
Menurut riset KB Valbury, harga saham BBNI telah terkoreksi sekitar 24 persen secara year to date dan turun 34,9 persen dari level tertingginya pada 2026. Tekanan itu dinilai lebih banyak dipicu sentimen investor asing dan faktor domestik, bukan karena kondisi bisnis perseroan yang melemah.
Valuasi BBNI dinilai makin menarik
KB Valbury menyebut saham BBNI kini diperdagangkan pada price to book value atau P/B sekitar 0,7 kali. Posisi itu berada di bawah level minus dua standar deviasi, sehingga dianggap memberi ruang masuk yang menarik bagi investor.
KBVS Research Akhmad Nurcahyadi menilai penurunan harga saham BBNI sudah terlalu dalam dan tidak lagi mencerminkan kondisi perusahaan. “Menurut kami, penurunan harga saham BBNI sudah terlalu dalam dan tidak lagi mencerminkan fundamental perseroan,” ujar Akhmad dalam risetnya.
Pandangan tersebut membuat KB Valbury tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBNI. Target harga yang dipasang berada di Rp4.720 per saham, dengan pertimbangan valuasi saat ini masih dinilai sangat menarik.
Kinerja BBNI masih tumbuh solid
Di tengah tekanan harga saham, kinerja operasional BBNI justru menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Selama lima bulan pertama 2026, bank pelat merah ini membukukan laba bersih bank induk sebesar Rp9,05 triliun, atau tumbuh 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan itu disebut sejalan dengan proyeksi KB Valbury maupun konsensus pasar. Dari sisi penyaluran kredit, BBNI mencatat pertumbuhan 24,5 persen secara tahunan menjadi Rp940,88 triliun.
Capaian kredit tersebut melampaui target pertumbuhan kredit perseroan tahun ini yang berada pada kisaran 8-10 persen. Artinya, ekspansi bisnis BBNI berjalan lebih cepat dari rencana awal manajemen.
Dana murah tetap kuat, kualitas aset terjaga
Kinerja pendanaan BBNI juga masih terlihat solid. Dana pihak ketiga atau DPK naik 33,2 persen secara tahunan, sementara dana murah atau current account saving account (CASA) tumbuh 26,8 persen.
Rasio CASA BBNI tercatat di level 68,3 persen. Angka itu menunjukkan struktur pendanaan bank masih kuat dan relatif efisien dalam menopang bisnis.
Di sisi kualitas aset, KB Valbury mencatat cost of credit BBNI berada di level 0,9 persen. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan target manajemen yang berada di kisaran 1,0-1,2 persen.
“Fundamental BBNI masih sangat kuat. Pertumbuhan kredit melampaui target, kualitas aset tetap terjaga, dan biaya kredit berada di bawah panduan manajemen,” kata Akhmad.
Risiko yang tetap perlu dicermati
Meski prospeknya dinilai menarik, KB Valbury tetap mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor. Risiko itu mencakup perlambatan pertumbuhan kredit, kenaikan biaya dana, tekanan terhadap margin bunga bersih atau net interest margin, serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Dengan kondisi tersebut, saham BBNI berada di persimpangan antara valuasi murah dan risiko makro yang masih membayangi. Namun selama fundamental tetap solid seperti yang terlihat dari pertumbuhan laba, kredit, dan pendanaan, saham ini masih dipandang memiliki ruang untuk bergerak lebih tinggi jika sentimen pasar membaik.
