BNI membawa 3 mitra binaan ke Puspa Nuswantara 2026 sebagai langkah untuk memperluas pasar UMKM batik dan kriya lokal. Kehadiran mereka juga menjadi cara BNI menampilkan produk yang tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga punya cerita inovasi di balik proses produksinya.
Pameran yang digelar di Jakarta Convention Center pada 8–12 Juli 2026 itu mengusung tema “Rupa Makna Tambal Nusantara”. Tagline yang dibawa adalah “Asli Batiknya, Asli Harganya, dan Asli Perajinnya”, untuk menegaskan posisi batik asli Indonesia dan mendekatkan perajin dengan masyarakat.
Fokus BNI di Puspa Nuswantara
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, keikutsertaan mitra binaan dalam ajang ini ditujukan untuk memperkenalkan perajin batik binaan kepada masyarakat dan pencinta batik Nusantara. Dalam keterangan tertulis, Okki menyebut partisipasi tersebut juga diharapkan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas bagi produk unggulan UMKM binaan.
BNI menempatkan pameran ini bukan sekadar ruang promosi dan transaksi, melainkan juga sarana pembelajaran bagi pelaku UMKM. Melalui ajang tersebut, para perajin dapat melihat peluang untuk meningkatkan kualitas produk, mulai dari desain, motif, kemasan, hingga strategi pemasaran.
3 Mitra Binaan Yang Dibawa BNI
| Mitra Binaan | Asal | Fokus Produk | Ciri Utama |
|---|---|---|---|
| Kampoeng Laweyan | – | Batik eco-batik | Menggunakan malam berbahan dasar minyak sawit |
| Batik Kalimasada | Purwantoro, Wonogiri | Batik | Motif “remukan” dengan warna dasar kuning kecokelatan atau sogan |
| Borneo Queen | Palangkaraya | Perhiasan dan kriya | Batu khas Kalimantan, pelat kuningan, motif flora dan fauna Kalimantan |
Dari tiga mitra binaan tersebut, dua di antaranya bergerak di sektor batik, yakni Kampoeng Laweyan dan Rumah BUMN Wonogiri. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen BNI dalam menjaga pelestarian budaya sekaligus meningkatkan daya saing UMKM batik Indonesia.
Kampoeng Laweyan dipilih karena dikenal sebagai salah satu pelopor industri eco-batik. Pelaku usahanya telah beralih menggunakan malam atau lilin berbahan dasar minyak sawit dalam proses produksi batik.
Inovasi itu didukung oleh CECT Universitas Trisakti dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Penggunaan malam berbahan dasar minyak sawit disebut menjadi alternatif dari lilin kimia konvensional agar proses produksi lebih aman, bersih, dan ramah lingkungan.
Sementara itu, Batik Kalimasada dari Purwantoro, Wonogiri, menghadirkan karakter khas melalui motif “remukan” atau retakan pada malam. Warna dasarnya memakai nuansa kuning kecokelatan atau sogan yang lekat dengan identitas batik tradisional.
Untuk melengkapi ragam kriya Nusantara, BNI juga menampilkan Borneo Queen, UMKM asal Palangkaraya yang memproduksi perhiasan berbasis batu khas Kalimantan dan pelat kuningan. Produk yang dibawa meliputi bros, kalung, cincin, dan aksesori lain yang terinspirasi flora serta fauna Kalimantan.
Beragam koleksi batik dan perhiasan dari para perajin lokal itu dapat ditemui pengunjung di booth UMKM BNI selama Puspa Nuswantara 2026 berlangsung. Partisipasi ini juga diharapkan membuka ruang kerja sama dengan institusi maupun individu yang tertarik pada produk-produk unggulan binaan.
Menurut Okki, pameran ini sejalan dengan semangat melayani sepenuh hati dan menjadi bagian dari sinergi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia untuk memperkuat sektor produktif. BNI juga menempatkannya sebagai dukungan terhadap industri kreatif berbasis budaya yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi Indonesia.
BNI menilai Puspa Nuswantara sebagai ruang apresiasi bagi produk unggulan khas Indonesia, seiring momentum HUT ke-80 bertema “Swadharma Bhakti Nagara”. Melalui ajang ini, BNI berharap para perajin dan mitra binaan semakin terdorong berinovasi, menciptakan nilai tambah, dan memperluas jangkauan pasar.
